KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jum’ah rahimakumullah

Di dalam surat Ar-Rum ayat ke-41 Allah ﷻ berfirman:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ  ٤١

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)

Masyiral muslimin rahimakumullah,

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sangat tegas menjelaskan hubungan antara perilaku manusia dengan musibah dan bencana yang terjadi di alam semesta. Allah memberi sinyal bahwa kerusakan yang muncul: baik kekacauan sosial, bencana alam, maupun berbagai kesulitan hidup, bukan hadir tanpa sebab. Semuanya sangat berhubungan dengan ulah manusia itu sendiri.

Di dalam kitab Aisaru At-Tafasir, Asy-Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairy rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “telah tampak kerusakan di darat dan di laut” adalah tersebarnya kemaksiatan dimana-mana, baik di daratan maupun di lautan. Bahkan pada masa kini, kata beliau, kerusakan itu telah menjangkau udara, karena menyebarnya berbagai bentuk maksiat: kesyirikan, pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah, serta tindakan menyakiti sesama manusia, baik dalam urusan harta, tubuh, maupun kehormatan.

Semua bentuk kerusakan itu, ungkap beliau, merupakan akibat berpalingnya manusia dari agama Allah, mengabaikan syariat-Nya, serta tidak menegakkan hukum-hukum Allah yang telah diturunkan sebagai petunjuk hidup.

Adapun maksud ayat “bima kasabat aidinnas”, “disebabkan oleh perbuatan tangan manusia”, yaitu bahwa segala kerusakan yang muncul itu bersumber dari kezaliman, kekufuran, kefasikan dan kebejatan manusia itu sendiri. Bukan sekadar kesalahan teknis, bukan semata-mata fenomena alam, namun ada sisi moral dan spiritual yang menjadi pemicu kerusakan tersebut.

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Mensyukuri Nikmat Sehat

Kemudian di dalam lanjutan ayat, Allah ﷻ berfirman: “liyudziqahum ba’dhalladzi amilu”, “Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka”. Maksudnya, segala yang menimpa manusia berupa kekeringan, kelaparan, mahalnya kebutuhan hidup, peperangan dan berbagai fitnah, semuanya ditimpakan oleh Allah ﷻ sebagai bentuk peringatan, “agar manusia merasakan sebagian dari (akibat) apa yang telah mereka lakukan” karena telah berbuat syirik dan melakukan berbagai kemaksiatan.

Masyiral muslimin rahimakumullah

Jika kita perhatikan, penjelasan tersebut menunjukkan bahwa setiap bencana, kesempitan, atau goncangan hidup bukanlah semata-mata peristiwa alam ataupun kebetulan. Ada hikmah besar yang Allah selipkan di baliknya. Musibah itu hadir “la’alahum yarji’un”, “agar manusia kembali kepada ketaatan”.

Musibah itu hadir bukan untuk menghancurkan manusia, melainkan sebagai peringatan yang lembut namun tegas, agar manusia sadar dan kembali memperbaiki sikap mereka. Sebab manusia memiliki kecenderungan lalai; ketika hidup terasa aman, mudah, dan lapang, mereka sering lupa untuk mendekat kepada Allah dan menjaga ketaatan. Karena itulah Allah memberikan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar hati mereka tersentak, kembali ingat, lalu kembali kepada jalan yang benar.

Inilah Maha Lembutnya Allah ﷻ, sebagaimana dijelaskan Asy-Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairy rahimahullah, “Allah tidak menimpakan hukuman atas semua dosa mereka sekaligus. Sebab jika Allah menghukum seluruh dosa mereka tanpa tersisa, niscaya kehidupan akan musnah dan keberadaan manusia akan berakhir. Akan tetapi Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, Maha Lembut dalam memperlakukan mereka.”

Akhirnya

Marilah kita menjadikan ayat ini sebagai cermin untuk memperbaiki diri.  Jika hari ini kita menyaksikan berbagai bencana alam terjadi di negeri kita, ketahuilah bahwa semua itu sejatinya merupakan pertanda dari Allah ﷻ, pengingat bagi penduduk negeri ini agar segera melakukan muhasabah dan perbaikan diri: dengan memperbanyak taubat, menjaga shalat, menghindari maksiat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta hubungan manusia dengan alam.

Baca Juga:  Khutbah Jum'at: Antara Meja Makan Kita dan Derita Rakyat Gaza

Sebab, keadaan alam sekitar kita ini adalah dampak dari perbuatan kita sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu al-‘Aliyah rahimahullah:

مَنْ عَصَى اللَّهَ فِي الْأَرْضِ فَقَدْ أَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ؛ لِأَنَّ صَلَاحَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ

“Barang siapa bermaksiat kepada Allah di muka bumi, maka sungguh ia telah membuat kerusakan di bumi. Sebab, baiknya keadaan bumi dan langit tergantung pada ketaatan.” (Tafsir Ibn Katsir)

Setiap ketaatan akan menutup pintu kerusakan, dan setiap dosa membuka pintu musibah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang peka terhadap peringatan-Nya, lembut hatinya untuk kembali, dan istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat kita. Aamiin.

وَٱلۡعَصۡرِ  ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ  ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ  ٣

KHUTBAH KEDUA

 اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا، وَارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ التَّائِبِيْنَ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ، الثَّابِتِيْنَ عَلَى طَاعَتِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ

أَقِيمُواْ الصَّلَاةَ