Kajian kitab At-Tadzhib fi Adillati Matn al-Ghayah wa at-Taqrib karya Dr. Mushtafa Dib al-Bugha, sebuah kitab fikih madzhab Syafi’i yang memaparkan dalil-dalil dari matan Abu Syuja’.
وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ الْعِيدَانِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ الثَّلَاثَةُ وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ
Haram Berpuasa pada lima hari berikut:
Makruh berpuasa pada hari syak, kecuali jika bersamaan dengan kebiasaan puasa.[3]
[1] Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ
Artinya: Bahwasanya Rasulullah ﷺ melarang berpuasa pada dua hari, (1) hari raya Idul Adha dan (2) hari raya Idul Fitri. (HR. Muslim no. 1138 dan Al-Bukhari no. 1890)
[2] Dari Ka‘b bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutusnya bersama Aus bin al-Hadatsan pada hari-hari Tasyriq. Lalu ia menyerukan kepada manusia:
إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman, dan hari-hari Mina adalah hari-hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1142)
Dan Abu Dawud (2318) meriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Itulah hari-hari yang Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk berbuka (tidak berpuasa) dan melarang kami berpuasa pada hari-hari tersebut.”
Imam Malik berkata: “Itu adalah hari-hari Tasyriq.”
[3] Hari Syak adalah hari ke 30 bulan Sya’ban, yang mana manusia mengalami keraguan, apakah masih Sya’ban atau sudah Ramadhan. Pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Asy-Syafi’I, puasa pada hari syak dihukumi haram, tidak sah. Sebagaimana hadits dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
مَنْ صَامَ الْيَومَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ ﷺ
Artinya: “Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan oleh manusia (hari syak), maka sungguh telah durhaka kepada Abul Qasim ﷺ.”
Perkataan penulis (Abu Syuja’) “ia makruh” dipahami sebagai makruh yang bermakna haram (karahah tahrim) sehingga sesuai dengan pendapat yang mu‘tamad.
Diharamkan pula berpuasa pada paruh kedua bulan Sya‘ban, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (2337) dan dinilai sahih oleh Tirmidzi (738) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا
Artinya: “Apabila telah masuk pertengahan bulan Sya‘ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR. Abu Dawud no.2337)
Dalam riwayat Ibnu Majah (1651) disebutkan:
إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلَا صَوْمَ حَتَّى يَجِيءَ رَمَضَانُ
Artinya: “Apabila telah datang pertengahan bulan Sya‘ban, maka tidak ada puasa hingga datang bulan Ramadhan.”
Haramnya berpuasa pada hari syak dan paruh kedua bulan Sya‘ban menjadi gugur apabila:
- Puasa tersebut bertepatan dengan kebiasaan puasanya, atau
- Ia menyambung puasanya dengan hari-hari sebelum pertengahan Sya‘ban.
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1815) dan Imam Muslim (1082) (lafaz ini milik riwayat Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ، إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ.
Artinya: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang memang memiliki kebiasaan berpuasa, maka hendaklah ia melanjutkan puasanya itu.”










