Kajian kitab At-Tadzhib fi Adillati Matn al-Ghayah wa at-Taqrib karya Dr. Mushtafa Dib al-Bugha, sebuah kitab fikih madzhab Syafi’i yang memaparkan dalil-dalil dari matan Abu Syuja’.

Pembatal-Pembatal Puasa

وَالَّذِيْ يُفْطِرُ بِهِ الصَّائِمُ عَشْرَةَ أَشْيَاءَ: مَا وَصَلَ عَمْدًا إِلَى الْجَوْفِ وَالرَّأْسِ وَالْحُقْنَةُ فِيْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ وَالْقَيْءُ عَمْدًا وَالْوَطْءُ عَمْدًا فِي الْفَرْجِ وَالْإِنْزَالُ عَنْ مُبَاشَرَةٍ وَالْحَيْضُ وَالنِّفَاسُ وَالْجُنُوْنُ وَالرِّدَّةُ

Hal-hal yang membatalkan puasa itu ada sepuluh perkara:

  1. Adanya sesuatu yang sampai ke al-jauf (rongga tubuh) dengan sengaja.
  2. Adanya sesuatu yang masuk ke dalam lubang bagian kepala dengan sengaja.
  3. Suntikan (memasukkan sesuatu) melalui salah satu dari dua jalan (qubul dan dubur).
  4. Muntah dengan sengaja.
  5. Berhubungan badan secara sengaja pada kemaluan.
  6. Keluarnya mani karena karena sentuhan langsung.[1]
  7. Haidh.
  8. Nifas.
  9. Gila.
  10. Murtad.[2]

Hal-Hal Yang Disunahkan Saat Berpuasa

وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: تَعْجِيلُ الْفِطْرِ, وَتَأْخِيْرُ السَّحُورِ وَتَرْكُ الْهُجْرِ مِنَ الْكَلَامِ

Ada tiga hal yang disunnahkan saat berpuasa:

  1. Menyegerakan berbuka.[3]
  2. Mengakhirkan sahur. [4]
  3. Meninggalkan perkataan buruk.[5]

[1] Yang dimaksud keluar mani karena mubasyarah adalah keluarnya mani karena bersentuhan, berciuman atau semisalnya.

[2] Murtad membatalkan puasa karena orang yang murtad tidak lagi memenuhi syarat sebagai orang yang sah melakukan ibadah, sehingga puasanya batal.

[3] Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

لا يزَالُ الناسُ بِخَيرٍ ما عجَّلُوا الفطْرَ

Artinya: “Manusia senantiasa di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Al-Bukhari no.1856 dan Muslim no.1098)

Yang lebih utama, seseorang berbuka dengan beberapa butir kurma atau sedikit air putih. Setelah itu mengerjakan shalat Maghrib, kemudian barulah makan jika menginginkannya.

Ibnu Hibban telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih,

أنَّهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا كَانَ صَائِماً، لَمْ يُصَلِّ حَتَّى يُؤْتَى بِرُطبٍ أَوْ مَاءٍ، فَيَأْكُلَ أو يشربَ، وَإِذَا كَانَ فِي الشِّتَاءِ، لَمْ يُصَلِّ حَتَّى نَأْتِيَهُ بِتَمْرٍ أًوْ مَاءٍ

Baca Juga:  Faidah Puasa Syawal

Artinya: “bahwasanya Rasulullah ﷺ jika beliau berpuasa, beliau tidak shalat (Maghrib) sampai didatangkan kepada beliau kurma basah atau air, lalu beliau memakannya atau meminumnya. Dan ketika musim dingin, beliau tidak shalat sampai kami membawakan kepada beliau kurma kering atau air.”

[4] Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السَّحُورَ

Artinya: “Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.” (Musnad Imam Ahmad 5/147).

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban:

إنَّ تَأْخِيْرَ السَّحُور ِمِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ

“Sesungguhnya mengakhirkan sahur termasuk sunnah para nabi.”

Yang dimaksud mengakhirkan sahur adalah seseorang selesai makan dan minum beberapa saat sebelum terbit fajar.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai sahur, Nabi ﷺ berdiri untuk menunaikan shalat. Kami bertanya kepada Anas, “Berapa jarak antara selesai sahur mereka dan masuknya shalat?”

Ia menjawab,

 قَدْرَ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

Artinya: “Sekitar waktu seseorang membaca lima puluh ayat Al-Qur’an.” (HR. Bukhari no. 556)

[5] Yang dimaksud dengan al-hujr min al-kalam adalah perkataan keji dan batil, seperti mencaci, menggunjing dan semacamnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari no.1804).

Maksudnya, puasanya tidak mendapatkan pahala, meskipun kewajiban puasanya tetap dianggap sah.

Sedang yang dimaksud az-zur adalah perkataan batil atau dusta.