(Disarikan dari nasihat Ustadz Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., dalam Haflah Akhirussanah Ponpes Weekend Al-Furqon)

Dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan ilmu, tetapi amanah besar yang menyentuh hati, membentuk karakter, dan menggerakkan perubahan di tengah masyarakat. Karena itu, para dai, imam, khatib, dan mubalig—terutama yang terjun langsung di lapisan masyarakat paling bawah—memerlukan bekal yang kuat agar dakwah yang dilakukan tidak hanya benar secara materi, tetapi juga hidup, diterima, dan berbuah kebaikan.

Pada acara Haflah Akhirussanah Ponpes Weekend Al-Furqon (11/01/2026), Ustadz Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., menyampaikan beberapa asas penting yang perlu terus dijaga oleh para pendakwah. Asas-asas ini bukan sekadar teori, tetapi bekal praktis yang menentukan keberhasilan dakwah di lapangan.

Ikhlas Niat karena Allah Semata (الإخلاص لله وحده)

Bekal paling mendasar dalam dakwah adalah memurnikan niat hanya karena Allah ﷻ. Dakwah tidak boleh digerakkan oleh ambisi pribadi, fanatisme kelompok, kebanggaan lembaga, atau sekadar menjalankan perintah manusia. Semua aktivitas dakwah—apa pun bentuk dan skalanya—harus kembali kepada satu orientasi: mencari rida Allah semata.

Allah ﷻ tidak memerintahkan banyaknya program atau luasnya aktivitas, kecuali dengan satu syarat utama, yaitu keikhlasan. Sebab itu, seorang dai perlu terus-menerus mengoreksi niatnya: apakah dakwah yang dilakukan benar-benar karena Allah, atau sudah bercampur dengan kepentingan lain.

Dalam konteks ini, disampaikan pesan Imam Malik رحمه الله yang sangat mendalam: “Apa-apa yang diniatkan karena Allah, insyaallah akan tetap dan lestari.” Dakwah yang dibangun di atas keikhlasan akan dijaga oleh Allah, bahkan ketika para perintisnya telah wafat. Sebaliknya, dakwah yang berdiri di atas kepentingan duniawi berisiko ditinggalkan dan hilang ditelan zaman.

Berbekal dengan Takwa (التزود بالتقوى)

Selain ikhlas, bekal utama bagi pendakwah adalah takwa. Takwa bukan sekadar konsep, tetapi kekuatan ruhiyah yang menentukan keberkahan dakwah. Allah ﷻ memerintahkan agar setiap hamba berbekal, dan sebaik-baik bekal itu adalah takwa.

Seorang dai sejatinya sedang berinteraksi dengan hati manusia, sementara hati-hati itu berada sepenuhnya di tangan Allah. Karena itu, kekuatan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kecakapan berbicara, tetapi oleh kedekatan sang dai dengan Allah. Dakwah yang keluar dari hati yang bertakwa akan lebih mudah sampai ke hati pendengar.

Disampaikan bahwa orang yang jauh dari Allah akan kesulitan mengajak orang lain mendekat kepada-Nya. Oleh sebab itu, menjaga ibadah pribadi, memperbanyak istighfar, dan membangun kekuatan ruhiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan dakwah.

Baca Juga:  Jangan Malu Bertaubat!

Akhlak yang Mulia dalam Berdakwah (حسن الخلق)

Bekal berikutnya adalah akhlak yang baik. Rasulullah ﷺ dikenal oleh masyarakatnya sebagai pribadi yang jujur, ramah, dan dapat dipercaya bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Beliau tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi menghadirkan keteladanan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam dakwah, akhlak sering kali menjadi pintu utama penerimaan. Wajah yang ramah, sikap yang rendah hati, kepedulian sosial, serta keterlibatan dalam kehidupan masyarakat merupakan bagian dari akhlak dai. Tidak jarang dakwah ditolak bukan karena isinya, tetapi karena sikap dan perilaku penyampainya.

Disampaikan pula bahwa tidak setiap penolakan dakwah bisa langsung disamakan dengan peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ ditolak setelah akhlaknya dikenal luas dan dakwahnya jelas. Karena itu, akhlak yang mulia menjadi fondasi penting agar dakwah tidak hanya didengar, tetapi juga diterima dan dirasakan manfaatnya.

Berdakwah Sesuai Kondisi dan Kemampuan Mad’u (الدعوة على قدر عقول الناس)

Dakwah menuntut kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Materi yang tepat di satu tempat belum tentu sesuai di tempat lain. Karena itu, dakwah harus disampaikan sesuai dengan tingkat pemahaman, latar belakang, dan kebutuhan mad’u.

Bagi masyarakat awam, penyampaian yang sederhana justru lebih efektif. Tidak perlu banyak istilah rumit atau teori panjang. Satu ayat atau satu hadis yang dijelaskan dengan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari sering kali jauh lebih membekas dan mudah diamalkan.

Ulama rabbani bukanlah mereka yang membuat jamaah kagum karena sulitnya bahasa, tetapi mereka yang mampu menyederhanakan ilmu agar bisa dipahami dan diamalkan oleh umat.

Menggunakan Bahasa Kaum (الدعوة بلغة القوم)

Bahasa merupakan jembatan penting dalam dakwah. Menyampaikan pesan dengan bahasa yang dipahami masyarakat akan membuat dakwah terasa lebih dekat dan menyentuh. Bahkan pesan yang berat sekalipun dapat terasa ringan ketika disampaikan dengan bahasa yang akrab di telinga pendengar.

Penggunaan bahasa daerah, selama tepat dan santun, justru dapat menghadirkan kehangatan dan kedekatan emosional. Bahasa yang halus, sederhana, dan sesuai dengan kultur setempat akan membantu pesan dakwah lebih mudah diterima tanpa menimbulkan jarak.

Baca Juga:  Tidak Semua Ilmu Wajib Dipelajari: Ini Ilmu yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim

Fokus pada Hal yang Substansial dan Prioritas

Bekal terakhir yang ditekankan adalah kemampuan untuk fokus pada perkara yang esensial. Dalam dakwah keumatan, seorang dai perlu memilah mana yang menjadi prioritas dan mana yang sebaiknya tidak dikedepankan di hadapan masyarakat awam.

Polemik khilafiyah, perdebatan cabang, dan isu-isu yang tidak mendesak sebaiknya tidak menjadi menu utama dakwah. Yang lebih utama adalah penguatan tauhid, akidah, akhlak, dan nilai-nilai dasar Islam yang menjadi fondasi kehidupan umat.

Karena itu, seorang pendakwah perlu memahami fikih prioritas, fikih perbedaan, dan realitas masyarakat, agar dakwahnya tepat sasaran dan benar-benar membawa maslahat, bukan sekadar menambah perdebatan.

Penutup

Melalui nasihat ini, ditekankan bahwa dakwah bukan hanya soal kebenaran materi, tetapi juga soal keikhlasan niat, kekuatan ruhiyah, kemuliaan akhlak, dan kebijaksanaan dalam menyampaikan. Dengan bekal-bekal inilah, dakwah diharapkan tidak hanya terdengar, tetapi juga hidup, diterima, dan berbuah perbaikan nyata di tengah umat.