Kisah-kisah umat terdahulu bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan pelajaran hidup yang sarat makna. Al-Qur’an menghadirkan kisah-kisah itu bukan untuk dicerna sebagai sejarah semata, tetapi untuk direnungkan dan dijadikan cermin kehidupan. Salah satunya adalah kisah tentang negeri Saba’, sebuah bangsa yang pernah hidup dalam limpahan nikmat dan kemakmuran, namun justru binasa karena tidak pandai memelihara keduanya dengan rasa syukur.
Saba’ Diambil dari Nama Orang
Saba’ sebenarnya adalah nama raja pertama Yaman -berdasarkan satu pendapat- yang mana nama sebenarnya adalah Abdu Syams.[1]
Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadits dari Farwah bin Musaik Al-Ghuthaifi. Ia berkata, seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang Saba’. Apakah dia sebuah negeri atau seorang wanita?
Beliau menjawab:
لَيْسَ بِأَرْضٍ وَلَا امْرَأَةٍ، وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ وُلِدَ لَهُ عَشَرَةٌ مِنَ الْوَلَدِ، فَتَيَامَنَ سِتَّةٌ وَتَشَاءَمَ أَرْبَعَةٌ، فَأَمَّا الَّذِينَ تَشَاءَمُوا: فَلَخْمٌ وَجُذَامٌ وَعَامِلَةُ وَغَسَّانُ، وَأَمَّا الَّذِينَ تَيَامَنُوا: فَكِنْدَةُ، وَالْأَشْعَرِيُّونَ، وَالْأَزْدُ، وَمُذْحِجُ، وَحِمْيَرُ، وَأَنْمَارُ” فَقَالَ رَجُلٌ: مَا أَنْمَارُ؟ قَالَ: “الَّذِينَ مِنْهُمْ خَثْعَمُ وَبَجِيلَةُ”
“Bukan negeri dan bukan pula wanita, akan tetapi dia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepuluh anak. Enam dari mereka menyebar di wilayah Yaman, dan empat lainnya menyebar ke wilayah Syam. Adapun ke arah Syam adalah: Lakhm, Judzam, ‘Amilah, dan ghassan. Sedangkan yang ke arah Yaman adalah: Kindah, Al-‘Asy’ariyyun, Al-Azd, Mudzhij, Hamir dan Anmar.”
Kemudia laki-laki tadi bertanya, “Apa itu Anmar?”.
Rasulullah menjawab, “Mereka itu adalah nenek moyang suku Khat’am dan Bajilah”.[2]
Para ulama nasab -diantaranya adalah Muhammad bin Ishaq- mengatakan, “Nama asli Saba’ yaitu Abdu Syams bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan”.[3]
Namun nama Saba’ juga dijadikan nama untuk penduduk Yaman, kaum Tababi’ah (Tubba’) berasal dari mereka, dan Ratu Balqis -Istri nabi Sulaiman- juga berasal dari mereka.[4]
Letak Geografis
Wilayah yang ditempati kaum Saba’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang dimaksud adalah sebuah daerah yang hari ini dikenal dengan nama Ma’rib. Ia termasuk wilayah Yaman. Jarak antara Ma’rib dan Shan’a (ibu kota Yaman) adalah sejauh perjalanan tiga hari.[5]
Jika melihat peta melalui internet, maka jarak keduanya (Ma’rib dan Shan’a) adalah sekitar 200 km, dan bisa ditempuh dalam waktu 3 jam 41 menit dengan mobil. (Google Map)
Kemakmuran Negeri Saba’
Dalam surat Saba’, Allah Ta’ala menggambarkan negeri Saba’ sebagai sebuah negeri yang sangat makmur. Setidaknya, terdapat beberapa fakta dalam ayat-ayat surat ini yang menunjukkan betapa luar biasanya kemakmuran yang mereka miliki.
1. Dikelilingi perkebunan yang sangat subur
Allah Ta’ala befirman:
لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ ١٥
Artinya: “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba’ : 15)
Kaum Saba’ memiliki sebuah bendungan yang sangat besar, yang menampung air dari dua gunung, air hujan dan aliran air dari lembah di sekitar wilayah tersebut. Bendungan itulah yang mengairi tanah-tanah di Saba’ sehingga mampu memproduksi berbagai jenis buah-buahan yang melimpah dengan mutu yang berkualitas.
Kesuburan negeri Saba’ dilukiskan oleh banyak salaf, diantaranya Qatadah, bahwa: seorang wanita bisa berjalan di bawah pepohonan dengan keranjang atau wadah di atas kepalanya, dan buah-buahan pun berguguran ke dalamnya tanpa perlu susah payah memetik karena saking banyak dan matang serta siap panennya buah-buahan itu.[6]
2. Udara yang sejuk dan lingkungan yang sangat sehat
Masih tentang ayat ke-15 surat Saba’, Abdurrahman bin Zaid berkata: Sesungguhnya tanda (kekuasaan Tuhan)[7] yang diberikan kepada penduduk Saba’ di tempat tinggal mereka adalah bahwa mereka tidak pernah melihat ada seekor nyamuk, lalat, kutu, serangga, kalajengking, ular, atau binatang berbahaya lainnya di wilayah mereka. Bahkan jika ada orang yang datang dari luar dengan membawa kutu di pakaiannya, kutu itu akan mati ketika melihat rumah-rumah penduduk Saba’.[8]
3. Akses antar kota yang mudah, aman, bahkan bepergian jauh pun tak membutuhkan bekal.
Pada ayat yang ke-18 surat Saba’, Allah Ta’ala berfirman:
وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ ٱلۡقُرَى ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا قُرٗى ظَٰهِرَةٗ وَقَدَّرۡنَا فِيهَا ٱلسَّيۡرَۖ سِيرُواْ فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ ١٨
Artinya: “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan aman.” (QS. Saba’ : 18)
Ayat ini merupakan lanjutan dari gambaran kenikmatan yang Allah berikan kepada penduduk Saba’, sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam ayat 15, “Sungguh, telah ada bagi (kaum) Saba’…”. Artinya: termasuk dalam kisah mereka adalah bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang telah Allah berkahi dengan air dan pepohonan -yaitu negeri-negeri di Syam- “negeri-negeri yang saling berdekatan” dan terhubung.
Rute dagang mereka membentang dari wilayah Ma’rib, sampai ke Syam. Mereka bermalam di satu desa dan beristirahat siang (qailulah) di desa lainnya, hingga mereka kembali lagi (ke tempat semula). Mereka tidak perlu membawa bekal dari rumah mereka ke Syam, karena semuanya telah tersedia di sepanjang perjalanan. Ini semua merupakan bagian dari kisah nikmat yang telah Allah limpahkan kepada mereka.[9]
Qatadah berkata, “Dahulu mereka (kaum Saba’) melakkukan perjalan tanpa rasa takut, tanpa mengalami kelaparan atau kehausan. Mereka bisa menempuh perjalanan selama empat bulan dalam keadaan aman; sampai-sampai jika seseorang bertemu dengan pembunuh ayahnya sekalipun, ia tidak akan mengganggunya.”[10]
Kufurnya Penduduk Saba’ dan Awal Mula Kehancurannya
Namun, segala bentuk anugerah yang dikaruniakan kepada penduduk Saba’ tidak membuat mereka bersyukur kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, mereka justru berpaling dari tauhid, enggan beribadah kepada-Nya, dan lalai mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan.
Sebagaimana disebutkan pada ayat ke-16 surat Saba’,
فَأَعۡرَضُواْ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سَيۡلَ ٱلۡعَرِمِ وَبَدَّلۡنَٰهُم بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَيۡ أُكُلٍ خَمۡطٖ وَأَثۡلٖ وَشَيۡءٖ مِّن سِدۡرٖ قَلِيلٖ ١٦
Artinya: “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS. Saba’ : 16)
Mereka malah beralih menyembah matahari, seperti ungkapan burung Hud-hud kepada nabi Sulaiman:
وَجِئۡتُكَ مِن سَبَإِۢ بِنَبَإٖ يَقِينٍ ٢٢ إِنِّي وَجَدتُّ ٱمۡرَأَةٗ تَمۡلِكُهُمۡ وَأُوتِيَتۡ مِن كُلِّ شَيۡءٖ وَلَهَا عَرۡشٌ عَظِيمٞ ٢٣ وَجَدتُّهَا وَقَوۡمَهَا يَسۡجُدُونَ لِلشَّمۡسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ فَصَدَّهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمۡ لَا يَهۡتَدُونَ ٢٤
Artinya: “dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk”. (QS. An-Naml : 22-24)
Selain itu, mereka juga sombong dengan kenikmatan yang mereka peroleh. Kemudahan akses dari satu daerah ke daerah lain yang mereka rasakan, keberlimpahan bahan pangan dan buah-buahan justru membuat mereka berkata,
فَقَالُواْ رَبَّنَا بَٰعِدۡ بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ . . . ١٩
Artinya: “Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri…” (QS. Saba’ : 19)
Mereka merasa sombong dan angkuh terhadap nikmat kemudahan perjalanan yang mereka dapatkan. Mereka justru lebih menyukai medan-medan berat dan padang pasir tandus yang menuntut mereka membawa bekal, kendaraan, dan menempuh perjalanan dalam panas terik dan penuh bahaya.
Ini mirip dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa, ketika mereka meminta makanan hasil bumi seperti sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang, dan bawang merah, padahal mereka telah hidup dalam kenikmatan dengan manna dan salwa serta makanan dan minuman yang mereka sukai. Maka dikatakan kepada mereka:
قَالَ أَتَسۡتَبۡدِلُونَ ٱلَّذِي هُوَ أَدۡنَىٰ بِٱلَّذِي هُوَ خَيۡرٌۚ ٱهۡبِطُواْ مِصۡرٗا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلۡتُمۡۗ وَضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلۡمَسۡكَنَةُ وَبَآءُو بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِۗ . . . . ٦١
“Apakah kalian hendak menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah? Turunlah ke Mesir, karena di sana kalian akan mendapatkan apa yang kalian minta. Dan ditimpakan kepada mereka kehinaan dan kemiskinan, serta mereka kembali dengan kemurkaan dari Allah…” (QS. Al-Baqarah: 61)[11]
Allah Kirim Tikus untuk Menghancurkan Bendungan Ma’rib
Banyak ulama’ menyebutkan bagaimana cara Allah menghukum penduduk Saba’, diantaranya dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Wahb bin Munabbih, Qatadah, dan Adh-Dhahak: ‘Bahwa ketika Allah Ta’ala hendak menghukum mereka dengan banjir bandang, Allah kirimkan binatang melata berupa tikus-tikus besar untuk menggerogoti bendungan”.[12]
Wahb bin Munabbih berkata: “Mereka dapati dalam kitab-kitab mereka bahwa penyebab hancurnya bendungan itu adalah karena tikus. Maka mereka pun menjaga bendungan itu dengan menempatkan kucing-kucing di sekitarnya selama beberapa waktu. Namun Allah Ta’ala berkendak lain, tikus-tikus itu mampu mengalahkan kucing-kucing tersebut, lalu menyusup masuk dan berhasil menggerogoti bendungan. Akhirnya bendungan jebol dan banjir bandang pun meluluhlantakkan negeri Saba’”.[13]

Akhir Tragis Kaum Saba’
Banjir yang menimpa negeri Saba’ menjadi permulaan hancurnya segala kemakmuran yang mereka peroleh sebelumnya. Kebun-kebun yang dulu rimbun dan menghasilkan buah-buahan yang lezat, digantikan oleh dua kebun yang hanya menumbuhkan buah-buahan pahit, pohon Atsl[14], dan hanya sedikit dari pohon Sidr (bidara).[15]
Banjir besar itu memecah keutuhan mereka. Sebagian dari mereka ada yang masih menetap di Yaman, sebagian lainnya ada yang pindah ke wilayah Syam.[16] Sejak saat itu, bangsa Saba’ tak lagi menjadi satu komunitas yang utuh, melainkan tercerai berai dan kehilangan kejayaannya.
Hingga hari ini, kisah kaum Saba’ masih menjadi bahan perbincangan di tengah umat manusia. Sebagaimana firman-Nya,
. . . فَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَحَادِيثَ وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ كُلَّ مُمَزَّقٍۚ . . . ١٩
Artinya: “…maka Kami jadikan mereka buah tutur (bahan pembicaraan) dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. (QS. Saba’ : 19)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, maksud dari ayat ini adalah Kami jadikan mereka sebagai bahan perbincangan di kalangan umat, sebagai bahan cerita yang dikisahkan tentang merreka, dan bagaimana Allah memperlakukan mereka: bagaimana mereka dahulu hidup dalam kebersamaan, kesejahteraan, dan kemakmuran, lalu Allah mencerai-beraikan mereka karena kedurhakaan mereka. Mereka pun tercerai-berai di berbagai penjuru negeri, hidup berkelompok-kelompok di tempat-tempat yang jauh satu sama lain.[17]
Pelajaran dari Kisah Negeri Saba’
Kisah kehancuran negeri Saba’ bukan sekadar sejarah, melainkan ibrah yang nyata bagi umat manusia. Bangsa yang dahulu hidup dalam kelimpahan dan kemakmuran, akhirnya binasa karena kesombongan dan kekufuran mereka terhadap nikmat Allah.
Itulah mengapa Allah tutup ayat ke-19 surat Saba’ dengan ungkapan,
. . . إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ١٩
Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (QS. Saba’ : 19)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa peristiwa tragis yang menimpa penduduk Saba’ berupa hukuman Allah, azab, kehancuran, digantikannya nikmat dengan bencana, dan digantikannya kesejahteraan dengan malapetaka merupakan akibat dari kekufuran dan dosa-dosa yang mereka lakukan. Semua itu menjadi suatu pelajaran bagi hamba-Nya yang sabar dalam menghadapi musibah dan hamba-Nya yang syukur terhadap nikmat-nikmat-Nya.[18]
Semoga kisah ini menggugah kita untuk merenung dan berbenah. Sebagai bangsa yang sering dijuluki Zamrud Katulistiwa, negeri yang ‘ijo royo-royo’, kaya sumber daya alam, sudah selayaknya kita menjaga amanah besar ini dengan sebaik-baiknya. Salah satu ikhtiar terpenting adalah menjaga ketaatan kepada Sang Pemberi nikmat, Allah subhanahu wa ta’ala. Karena hanya dengan syukur dan taat, nikmat akan tetap lestari dan membawa keberkahan, bukan kehancuran.
[1] Abu al-Fadl Syihabuddin Mahmud al-Alusi al-Baghdadi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azim wa al-Sab’ al-Matsani, tahqiq dan koreksi: Ali ‘Abd al-Bari ‘Athiyah, cet. 1, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994 M/1415 H, jil. 11, hlm. 299. Diakses melalui Shamela, https://shamela.ws, pada 2 Agustus 2025.
[2] Tafsir Ath-Thabari (22/53) dan Sunan Attirmidzi no. 3222
[3] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 6, hlm. 506, Dar Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1997.
[4] Ibid., hlm. 504.
[5] Muhammad bin Ali al-Syaukani, Fath al-Qadir, cet. 1, Beirut-Damaskus: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1414 H, jil. 4, hlm. 367. Diakses melalui Shamela, https://shamela.ws, pada 2 Agustus 2025.
[6] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 6, hlm. 507, Dar Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1997.
[7] Kata آية pada ayat ke-15 surat Saba’.
[8] Muhammad bin Ali al-Syaukani, Fath al-Qadir, cet. 1, Beirut-Damaskus: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1414 H, jil. 4, hlm. 367. Diakses melalui Shamela, https://shamela.ws, pada 2 Agustus 2025.
[9] Muhammad bin Ali al-Syaukani, Fath al-Qadir, cet. 1, Beirut-Damaskus: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1414 H, jil. 4, hlm. 369. Diakses melalui Shamela, https://shamela.ws, pada 2 Agustus 2025.
[10] Ibid.
[11] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 6, hlm. 509, Dar Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1997.
[12] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 6, hlm. 507, Dar Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1997.
[13] Ibid.
[14] Sejenis pohon cemara.
[15] Lihat kembali ayat ke-16 surat Saba’.
[16] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 6, hlm. 507, Dar Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1997.
[17] Ibid.
[18] Ibid., hlm. 512.










