KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Kalau kita menengok kembali perjalanan hidup sang kekasih Allah, Nabi Muhammad ﷺ, kita akan mendapati betapa berat ujian yang beliau hadapi, khususnya dalam menghadapi kerasnya permusuhan kaum musyrikin Quraisy.
Puncak permusuhan mereka tampak ketika memberlakukan pemboikotan terhadap siapa saja yang berada dalam kubu keluarga Nabi ﷺ, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthallib. Kaum musyrikin Quraisy membuat sebuah perjanjian yang sangat kejam dan tidak manusiawi. Mereka melarang menikahkan anak-anak mereka dengan siapa pun dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib, melarang berjual beli, melarang berinteraksi, bahkan melarang berbicara dengan mereka, sampai mereka menyerahkan Rasulullah ﷺ untuk dibunuh.
Selama masa pemboikotan tersebut, Bani Hasyim dan Bani Muthallib hidup dalam keterasingan. Mereka tidak mendapatkan pasokan makanan dan air. Mereka diputus dari aktivitas jual beli. Hingga akhirnya, mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit binatang. Suara-suara nyaring keluar dari rumah-rumah bani Hasyim dan bani Muthallib karena jeritan kaum wanita dan tangis bayi yang mengerang kelaparan.
Peristiwa memilukan ini dialami oleh Nabi ﷺ bersama seluruh klan Bani Hasyim dan Bani Muthallib selama kurang lebih tiga tahun, hingga akhirnya perjanjian itu dicabut dan dibatalkan.
Belum lama kesulitan mereda, ujian berikutnya kembali datang. Enam bulan setelah pemboikotan berakhir, paman beliau, Abu Thalib, wafat. Sosok yang telah merawat beliau sejak kecil dengan penuh kasih sayang, sekaligus tameng hidup dari gangguan kaum Quraisy.
Kesedihan itu kembali menyusul sekitar dua atau tiga bulan kemudian, ketika istri beliau, Khadijah radhiyallahu ‘anha, seorang wanita yang senantiasa beliau banggakan di hadapan istri-istri beliau itu berpulang ke rahmatullah.
Sungguh, itu adalah tahun yang sangat berat bagi sang pengemban risalah. Para ulama menyebutnya sebagai ‘am al-huzn, tahun kesedihan.
Namun, di tengah bertubi-tubinya ujian tersebut, beliau tetap sabar dan tegar. Sikap inilah yang kemudian menginspirasi para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan siapa saja yang menyimak kisah hidup beliau.
Lalu muncul pertanyaan, apa yang menjadi sebab ketegaran luar biasa itu?
Asy-Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri rahimahullah dalam Ar-Rahiq al-Makhtum mengungkapkan bahwa di antara sebab ketegaran Nabi ﷺ adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang turun untuk menguatkan kesabaran dan menanamkan sikap pantang menyerah.
Di antaranya firman Allah dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 2–3:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿٣﴾
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3)
Ayat ini hanyalah satu dari sekian banyak ayat Al-Qur’an yang menguatkan hati Nabi ﷺ. Ujian demi ujian yang beliau hadapi tidak melemahkan beliau, karena hatinya dipenuhi dengan petunjuk dari Al-Qur’an, kitab yang menenangkan dan menguatkan jiwa.
Karena sejatinya, dengan mengingat Allah, hati akan tentram.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ﴿ ٢٨﴾
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Jika Al-Qur’an telah menjadi sumber ketegaran Rasulullah ﷺ dalam menghadapi ujian yang begitu berat, maka di situ pula lah sumber ketenangan bagi kita hari ini. Di tengah keadaan yang tidak menentu, tekanan hidup yang semakin terasa, dan kekhawatiran akan masa depan, jangan biarkan hati kita jauh dari Al-Qur’an.
Kembalilah kepadanya, membaca, merenungi, dan mengamalkannya. Karena di dalamnya ada ketenangan dan kekuatan. Semoga Allah menjadikan hati kita selalu hidup dengan Al-Qur’an, sehingga kita mampu tetap sabar dan teguh dalam setiap ujian kehidupan.
وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بَأَمْرٍ عَظِيْمٍ, أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ
فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا فِي الْفِتَنِ، وَارْزُقْنَا الطُّمَأْنِينَةَ بِذِكْرِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ أَقِيمُواْ الصَّلَاةَ










