Anak sering kita anggap sebagai objek tarbiyah. Padahal kerap justru anak menjadi buku pelajaran bagi orang tua. Kita merasa sedang membentuk mereka, tapi tanpa sadar merekalah yang sedang membentuk kita. Membongkar sabar yang tipis, membuka ikhlas yang retak, menyingkap jarak antara nasihat yang diucap dan teladan yang hidup. Tidak hanya anak yang butuh dididik, Orang tua pun sejatinya sedang dididik melalui anak.

Tarbiyah keluarga dalam Islam tidak berdiri di atas teknik, tapi di atas wahyu. Tujuan mendidik bukan sekadar membentuk kepribadian, tapi menumbuhkan ubudiyah. Ukuran keberhasilan bukan hanya perilaku baik, tapi lurusnya tauhid, hidupnya shalat, dan terjaganya adab.

Karena itu tarbiyah bertumpu pada pilar yang kokoh. Tauhid sebelum teknik, qudwah sebelum nasihat, adab sebelum prestasi, doa sebelum strategi. Sebab rumah lebih butuh keteladanan daripada kata-kata, dan lebih butuh suasana iman daripada banyaknya instruksi.

Sering kali keadaan anak jadi cermin keadaan orang tua dan rumahnya. Shalat yang belum hidup di rumah, adab yang belum menjadi budaya, Qur’an yang belum jadi teman harian, pantulannya tampak pada anak. Maka tarbiyah sejati selalu dimulai dari muhasabah, bukan sekadar evaluasi anak.

Lewat anak, Allah juga mengajarkan tauhid praktis kepada orang tua. Bahwa kita hanya mengusahakan sebab, bukan menguasai hasil. Kita mendidik, tapi tidak memberi hidayah. Kita menjaga, tapi tidak membolak-balikkan hati. Di situ tawakkal tumbuh, doa menjadi hidup, dan kesombongan runtuh.

Mendidik anak menuntut keseimbangan. Lembut tanpa lemah, tegas tanpa keras. Cinta bukan memanjakan. Batasan bukan kebencian. Ketegasan yang beradab adalah bentuk rahmah, bukan lawannya.

Pada akhirnya, tarbiyah anak adalah jalan tazkiyatun nafs. Ia memaksa kita belajar sabar, menahan marah, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri diam-diam. Anak bukan pengganggu perjalanan ibadah. Sering justru menjadi jalannya.

Sebelum kita menulis di hati anak, Allah lebih dulu menulis pelajaran di hati kita melalui mereka. Anak bukan sekadar amanah yang kita didik, tapi juga guru yang Allah kirim untuk mendidik kita.

Baca Juga:  5 Kondisi Tergesa-Gesa yang Tidak Dilarang, Bahkan Dianjurkan

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi orang Yahudi, orang Nasrani ataupun orang Majusi” (HR Bukhari)


Kolumnis: Ali Abu Maryam