Sebab amal itu telah dibagi sebagaimana rezeki. Ada yang dilapangkan pada ilmu, ada yang dititipi kesabaran, ada yang dimuliakan dengan pelayanan kepada manusia, ada yang ditarik untuk panjangnya sujud di kesunyian malam. Tidak semua harus engkau miliki. Tidak semua harus engkau kejar.
Maka berhentilah menjalani kehidupan orang lain.
Bukan salahmu ketika mencari motivasi. Bukan pula keliru ketika engkau ingin menjadi lebih baik. Manusia memang hidup dengan belajar dari manusia lain. Namun sering kali yang luput bukan pada langkah yang ditempuh, melainkan pada wajah siapakah sebenarnya engkau tuju.
Engkau mengira sedang memperbaiki diri. Padahal perlahan engkau sedang memindahkan arah pandangan. Dari ridha -Nya menuju pengakuan mereka.
Dunia maya telah terlampau lama kau selami. Tanpa terasa terbawa arus. Setiap hari hanya disuguhi kehidupan yang disusun rapi untuk dilihat, bukan untuk dijalani. Pencapaian ditampilkan, kesedihan disembunyikan. Engkau pun mulai mengukur dirimu dengan ukuran yang bukan milikmu.
Standar hidupmu berubah tanpa terasa. Yang dahulu cukup menjadi kurang. Yang dahulu tenang menjadi gelisah. Engkau tidak lagi berjalan dengan takdirmu sendiri, tetapi berlari di jalur yang dibuat oleh pandangan orang lain.
Padahal hati tidak diciptakan untuk hidup dalam perlombaan tanpa akhir.
Kembalilah.
Kembalilah kepada kehidupan generasi terbaik. Mereka tidak sibuk memperlihatkan amalnya. Mereka sibuk memastikan kepada siapa amal itu dipersembahkan. Mereka hidup tanpa sorotan, tetapi langit mengenal nama mereka. Amal mereka sunyi, namun berat di timbangan.
Mereka teduh, karena tujuan mereka jelas. Mereka kokoh, karena yang mereka cari bukan manusia.
Hiduplah dengan prioritasmu. Pilihlah arah sebelum memilih langkah. Sebab ketika wajah yang engkau tuju benar, jalan yang panjang pun terasa ringan.
Kolumnis: Ali Abu Maryam










