Hari ini, banyak orang menjelaskan kemunduran pendidikan dengan satu istilah: fatherless. Lalu disimpulkan bahwa penyebabnya adalah ayah yang tidak hadir di rumah.

Namun jika kita perhatikan lebih dalam, cara pandang ini terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan realitas yang begitu kompleks.

Sebab jika benar masalahnya hanya pada kehadiran ayah, maka seharusnya generasi sebelumnya—yang ayahnya juga sering berada di luar rumah—mengalami kerusakan yang sama. Namun faktanya tidak demikian. Banyak dari mereka justru tumbuh dengan mental yang kuat, identitas yang jelas, dan daya tahan yang tinggi.

Di titik ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: jika bukan sekadar kehadiran, lalu sebenarnya apa yang hilang?

Jawabannya bukan pada sosok ayah, tetapi pada fungsi ayah.

Ayah dalam keluarga bukan sekadar figur yang hadir, menemani, atau berbicara dengan anak. Peran utamanya adalah membentuk identitas, menentukan arah hidup, cara berpikir, dan prinsip seorang anak. Ia adalah penentu arah, bukan sekadar partisipan dalam keseharian.

Di sinilah struktur keluarga menjadi penting untuk dipahami. Ayah berperan sebagai pembentuk arah dan identitas, sementara ibu berperan sebagai penerjemah dari visi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena ibu lebih banyak hadir bersama anak, maka ia yang menjalankan, menguatkan, dan menjaga konsistensi dari arah yang telah ditetapkan.

Namun problem besar hari ini bukan sekadar lemahnya salah satu peran, melainkan pecahnya arah dalam keluarga.

Ayah memiliki visi, sementara ibu memiliki pemahaman sendiri yang seringkali dipengaruhi oleh luar, baik dari media, lingkungan, maupun konsep parenting yang tidak selalu sejalan. Akibatnya, anak tidak tumbuh dalam satu arah, tetapi dalam dua arus yang berbeda. Di sinilah identitas mulai kabur.

Padahal dalam struktur yang benar, keputusan arah dalam tarbiyah harus ditentukan secara rasional dan terarah, bukan berdasarkan dorongan perasaan. Emosi tetap memiliki peran, tetapi dalam ranah pelaksanaan—menguatkan, melembutkan, dan mendekatkan—bukan menggantikan arah itu sendiri. Ketika arah ditentukan oleh perasaan, maka pendidikan menjadi tidak konsisten dan mudah berubah.

Baca Juga:  Fikih Puasa: Rukun Puasa

Kondisi ini semakin diperparah oleh hadirnya gadget. Hari ini, ibu tidak lagi belajar dari ayah saja, dan anak tidak lagi hanya belajar dari ibu. Setiap anggota keluarga memiliki ‘rujukan’ masing-masing dari luar. Nilai tidak lagi terpusat, dan rumah kehilangan arah yang utuh.

Di titik ini juga perlu diluruskan bahwa kerusakan pendidikan hari ini tidak bisa direduksi hanya dengan istilah fatherless. Persoalan ini bersifat kompleks. Bukan hanya fungsi ayah yang melemah, tetapi juga melemahnya peran ibu. Bahkan dalam banyak kasus, ayah sebenarnya telah memiliki arah dan visi, namun tidak diterjemahkan dengan baik oleh ibu dalam keseharian. Akibatnya, arah itu tidak sampai kepada anak, atau bahkan berubah di tengah jalan.

Maka persoalannya bukan sekadar ketiadaan ayah, tetapi kegagalan sistem dalam keluarga itu sendiri.

Karena itu, fatherless dalam makna yang lebih dalam bukan berarti ayah tidak ada, tetapi ayah tidak berfungsi sebagai penentu arah. Bahkan seorang ayah bisa sering bersama anak, tetapi jika ia tidak membentuk cara berpikir dan prinsip hidup anak tersebut, maka hakikatnya fungsi itu tetap tidak berjalan.

Dampaknya tidak berhenti di rumah. Ketika banyak keluarga gagal menjalankan tarbiyah dengan benar, maka kegagalan itu berkumpul di sekolah. Madrasah akhirnya hanya menjadi tempat akumulasi masalah, bukan tempat penyelesaian. Karena sekolah tidak mampu memperbaiki sesuatu yang sejak awal sudah rapuh fondasinya.

Maka di sinilah letak koreksi yang perlu kita lakukan. Krisis pendidikan bukan dimulai dari sekolah, tetapi dari rumah. Dan solusi utamanya bukan sekadar menghadirkan ayah secara fisik, tetapi mengembalikan perannya sebagai pembentuk identitas, serta menyatukan visi dalam keluarga.

Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh kehadiran…tetapi arah.


Kolumnis: Ali Abu Maryam