Kemurahan Sang Maha Pemurah

Sebagaimana yang kita imani, segala kebaikan dan nikmat merupakan karunia dari Allah ﷻ. Semua itu adalah bentuk kebaikan dan kemurahan dari Sang Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya.

Salah satu bukti kemurahan Allah adalah bahwa Dia tidak pilih kasih dalam memberikan nikmat dunia. Nikmat dunia diberikan kepada laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Bahkan, tidak dipedulikan apakah seseorang itu muslim atau kafir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ، وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ»

“Sesungguhnya Allah membagikan akhlak sebagaimana Dia membagikan rezeki. Dan sesungguhnya Allah memberikan nikmat dunia kepada orang-orang yang Dia cintai dan juga kepada orang-orang yang tidak Dia cintai. Akan tetapi, Dia tidak memberikan nikmat iman kecuali kepada orang-orang yang Dia cintai.”

(HR. Ahmad I/387, Al-Hakim I/34, dan Ibnu ‘Adi IV/166)

Kacang Lupa Kulitnya

Bagai kacang lupa akan kulitnya. Demikianlah peribahasa yang cocok untuk manusia yang selalu dihujani oleh nikmat Allah, namun mereka lupa bahwa semua nikmat adalah anugerah-Nya.

Berkaitan dengan mereka Allah ﷻ berfirman:

وَلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنَّا مِنۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ مَسَّتۡهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي. . .   ٥٠

“Dan jika kami melimpahkan kepadanya sesuatu rahmat dari kami, sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata:  “ini adalah hak-ku.”  (QS. Fushshilat, 50)

Dalam menafsirkan ayat ini Mujahid rahimahullah mengatakan: “Ini semua adalah karena jerih payahku, dan akulah yang berhak memilikinya.” (Tafsir Ath-Thabari)

Qarun contohnya, ketika Allah memberikan limpahan harta kepadanya, justru ia menjadi lupa terhadap nikmat tersebut. Sebagaimana yang disebutkan Allah ﷻ dalam firman-Nya: 

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِيٓۚ . . .  ٧٨

“(Qarun) berkata: sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain karena ilmu yang ada padaku.” ( QS. Al Qashash: 78)

Qotadah rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini mengatakan: “Maksudnya : Qarun berkata “ Semua hartaku adalah karena ilmu pengetahuanku tentang cara-cara berusaha.” (Tafsir Ath-Thabari)

Kisah Tiga Orang Yang Diuji Dengan Nikmat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah ﷻ ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.”

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

Ia menjawab, “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku.”

Baca Juga:  Mengapa Ikan di Laut Mendoakan Para Ahlul Ilmi?

Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus dan kulit yang indah. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?”

Ia menjawab, “Unta atau sapi.”

Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, lalu ia didoakan, “Semoga Allah memberikan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang kepalanya botak dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

Ia menjawab, “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan di kepalaku ini hilang.”

Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang kamu senangi?”

Ia menjawab, “Sapi atau unta.”

Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang buta dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.”

Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu Allah mengembalikan penglihatannya. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang paling kamu senangi?”

Ia menjawab, “Kambing.”

Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

Lalu berkembang biaklah unta, sapi, dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikutnya:

“Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, lalu berkata kepadanya, ‘Aku seorang miskin. Telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku meminta kepada Anda seekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.’”

Akan tetapi, permintaan itu ditolak dan dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.”

Kemudian malaikat itu berkata kepadanya, “Sepertinya aku pernah mengenal Anda. Bukankah dahulu Anda adalah orang yang menderita penyakit lepra, yang membuat orang-orang sangat jijik melihat Anda? Bukankah Anda juga seorang yang miskin, lalu Allah memberikan kepada Anda harta kekayaan?”

Namun, ia menjawab, “Harta kekayaan ini adalah warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.”

Maka malaikat itu berkata kepadanya, “Jika engkau berdusta, niscaya Allah akan mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.”

Baca Juga:  Hukum Seputar Anjing Kucing

Maka lenyaplah semua untanya dan kembalilah lelaki itu seperti kondisi semula, yaitu menderita penyakit lepra.

Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak dengan menyerupai dirinya saat masih botak, lalu berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit lepra. Namun, permintaannya juga ditolak sebagaimana ditolak oleh orang yang pertama.

Maka malaikat itu berkata, “Jika engkau berdusta, niscaya Allah akan mengembalikanmu seperti keadaan semula.”

Maka lenyaplah semua sapinya dan kembalilah lelaki itu seperti kondisi semula, yaitu botak sebagaimana sebelumnya.

Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai keadaannya dahulu saat ia masih buta, lalu berkata kepadanya, “Aku adalah seorang miskin yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

Maka orang itu menjawab, “Sungguh, dahulu aku buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah, aku tidak akan mempersulit Anda dengan meminta kembali sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.”

Maka malaikat itu berkata, “Peganglah harta kekayaanmu. Sesungguhnya engkau hanya sedang diuji oleh Allah. Allah telah rida kepadamu dan murka kepada kedua temanmu.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah di atas merupakan pelajaran yang sangat berharga. Betapa propaganda Iblis telah berhasil menjadikan kebanyakan manusia berpaling dari nikmat Allah dan tidak mensyukurinya. Padahal, ketika nikmat telah dilupakan, kebaikan dapat berubah menjadi keburukan, nikmat berubah menjadi azab, dan kebahagiaan berubah menjadi kesengsaraan.

Kedua orang di atas adalah contohnya. Karena tidak mengakui nikmat Allah dan karunia-Nya, Allah pun menarik kembali kebaikan-kebaikan-Nya dan mengembalikan mereka kepada kondisi semula, yaitu sengsara dan tidak memiliki apa-apa yang dapat dibanggakan.

Sebaliknya, bersyukur adalah cara untuk mengikat nikmat Allah agar tetap bersama kita, sekaligus menambah keberakahan pada apa yang telah kita peroleh.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ  ٧

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Ikatlah nikmat Allah dengan bersyukur.” (Syu’abul Iman, no. 4546)

Wallahu a‘lam bish-shawab.