Tidak semua orang dikaruniai kemampuan yang sama. Ada yang diberi kepandaian berbicara, ada yang dipercaya memegang jabatan, ada yang dilapangkan rezekinya, dan ada pula yang memiliki tenaga yang kuat. Namun, apa pun nikmat yang Allah anugerahkan, semuanya dapat menjadi jalan untuk meraih kecintaan-Nya apabila digunakan untuk memberikan manfaat kepada sesama.

Pesan itulah yang disampaikan Ustadz Hasan Abu Ayyub dalam pengajian yang dirangkaikan dengan santunan yatim dan keluarga terpilih di Mushalla Al-Ikhlas, Bulurejo, Randusari, Teras, pada Rabu, 22 Juli 2026.

Beliau mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Menurut beliau, setiap muslim memiliki peluang yang sama untuk meraih kemuliaan tersebut, hanya saja jalannya berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan amanah yang Allah titipkan kepada masing-masing.

Beliau kemudian menjelaskan sedikitnya ada empat cara yang dapat ditempuh untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.

Pertama, melalui kemampuan berbicara. Beliau menjelaskan bahwa siapa saja yang dikaruniai kepandaian berkomunikasi hendaknya menggunakan kemampuannya untuk menyebarkan kebaikan, bukan sebaliknya.

Apabila seseorang memiliki ilmu agama, maka lisannya dapat menjadi sarana berdakwah, mengajak manusia mengenal Allah, serta membimbing mereka menuju ketaatan. Sementara itu, bagi yang memiliki kemampuan menyusun sambutan, menjadi pembawa acara, atau pandai membangun komunikasi dan melobi, semua itu juga dapat menjadi ladang pahala apabila digunakan untuk membantu masyarakat dan memudahkan urusan sesama.

Kedua, melalui jabatan dan kekuasaan. Beliau mengingatkan bahwa jabatan bukanlah sarana untuk memperoleh keuntungan pribadi, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, jabatan seharusnya digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat seluas-luasnya.

Menurut beliau, seorang pemimpin yang amanah dan adil terkadang mampu menghadirkan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan banyak dai dan penceramah.

Sebagai ilustrasi, beliau mencontohkan sebuah daerah yang marak dengan praktik perjudian. Ceramah di mimbar Jumat maupun majelis ilmu tentu tetap memiliki nilai dan manfaat, namun sering kali para pelaku perjudian tidak menghadirinya sehingga pengaruhnya menjadi terbatas.

Baca Juga:  Safari Subuh Barokah di Masjid Baitul Muttaqien, Boyolali: Takmir Berharap Al-Furqon Berkenan Mengulang Kembali Program Ini

Sebaliknya, ketika seorang pemimpin menetapkan aturan yang tegas disertai penegakan hukum terhadap praktik perjudian, kebijakan tersebut akan berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan izin Allah, kemungkaran yang sebelumnya merajalela dapat ditekan bahkan dihilangkan. Melalui contoh tersebut, beliau ingin menunjukkan bahwa jabatan yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi sebab hadirnya kemaslahatan yang dirasakan oleh banyak orang.

Ketiga, melalui harta. Beliau menjelaskan bahwa orang yang Allah lapangkan rezekinya memiliki kesempatan besar untuk menjadi manusia yang dicintai-Nya dengan memanfaatkan hartanya di jalan kebaikan. Sedekah, membantu fakir miskin, mendukung kegiatan dakwah, pendidikan, dan berbagai aktivitas sosial merupakan bentuk manfaat yang pahalanya terus mengalir selama membawa kebaikan bagi orang lain.

Keempat, melalui tenaga dan fisik. Beliau mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan berbicara, jabatan, ataupun harta yang melimpah. Namun, hal itu bukan alasan untuk tidak menjadi pribadi yang bermanfaat. Membantu tetangga, ikut bergotong royong, meringankan pekerjaan orang lain, serta hadir ketika saudara membutuhkan pertolongan adalah amal yang sangat bernilai di sisi Allah.

Dalam kesempatan tersebut, beliau berpesan, “Jika tidak punya keahlian bicara, jabatan pun tak punya, harta tak seberapa, maka jadilah orang yang ringan tangan.”

Beliau kemudian menutup nasihatnya dengan sebuah pesan yang menyentuh. Apabila seseorang belum memiliki kepandaian berbicara, tidak memiliki jabatan, belum diberi kelapangan harta, bahkan belum mampu banyak membantu dengan tenaga yang dimilikinya, maka setidaknya jangan sampai menjadi penyebab kesulitan bagi orang lain.

Seorang mukmin, menurut beliau, hendaknya menjaga lisan, tangan, dan sikapnya agar tidak menyakiti maupun mengganggu sesama. Sebab, tidak mengganggu orang lain merupakan bentuk kebaikan paling minimal yang dapat dilakukan ketika seseorang belum mampu memberikan manfaat dalam bentuk yang lebih besar.

Pengajian tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Al-Furqon Cabang Randusari bekerja sama dengan Pengurus Mushalla Al-Ikhlas, Bulurejo, Randusari, Teras. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB itu berlangsung dengan lancar dan dihadiri jamaah dari wilayah setempat maupun luar daerah.

Baca Juga:  Syaikhah Fatimah Jamal Isi Kajian tentang Muslimah Gaza di Boyolali, Dihadiri Ratusan Jamaah

Pada kesempatan tersebut, panitia juga menyalurkan santunan kepada empat anak yatim dan 15 keluarga kurang mampu sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

SSB AGUSTUS
Penyerahan santunan untuk keluarga terpilih secara simbolis oleh pembina yayasan al-Furqon