Muqaddimah
Sesungguhnya nikmat Allah ﷻ kepada kita amat banyak dan besar. Jumlahnya tidak bisa dihitung dan jenisnya tidak bisa dikira. Salah satu nikmat yang Allah ﷻ karuniakan kepada kita adalah nikmat sehat, bahkan ia merupakan nikmat yang besar setelah nikmat iman atau islam.
Disamping itu, orang mukmin yang sehat lebih dicintai Allah ﷻ, karena dengannya ia bisa maksimal dan optimal melakukan beragam kebaikan. Dengan kesehatan yang Allah berikan, seorang mukmin ataupun mukminah bisa melakukan apa yang ia mau dari berbagai macam aktifitas dunia, ibadah dan kebaikan lainnya, hal ini berbeda dengan mereka yang sakit.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
المُؤمِنُ القوِّيُ خَيْرٌ وَ أحَبّ إلى الله مِن المؤمِنِ الضَّعِيفِ, و في كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah, pada setiap mereka ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664, Ahmad II / 366, 370, Ibnu Majah no. 79, 4168, An Nasai dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 626, 627, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilil Aatsar no. 259 – 262, Ibnu Abi Ashim dalam Kitab As Sunnah no. 356)
Karena itu, setiap hamba hendaknya menjaga kesehatan tubuhnya sebagai bentuk ikhtiar dalam memperoleh kesehatan dari Allah ﷻ, dengan berolahraga, mengonsumsi makanan yang halal dan baik, serta menempuh berbagai usaha yang bermanfaat.
Namun satu hal yang perlu diingat bahwa pada akhirnya, yang berkuasa menjadikan seseorang sehat atau sakit adalah Allah ﷻ. sehingga meski kita telah melakukan aneka ikhtiyar sehat dan bugar, tetap saja sesekali Allah karuniakan kepadanya sakit.
Keutamaan Orang Mukmin Yang Sakit
Banyak sekali orang yang sedih saat ditimpa sakit, bahkan tidak sedikit yang justru ber-su’udzan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Padahal, sakit yang dialami seorang hamba dapat menjadi bentuk kasih sayang dan rahmat Allah kepadanya. Melalui sakit tersebut, Allah memberikan berbagai kebaikan dan keutamaan, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan dijelaskan melalui sabda Rasulullah ﷺ.
Adapun diantara keutamaan seorang muslim yang diberikan sakit oleh Allah, antara lain:
Sakit Adalah Penggugur Dosa dan Kesalahan
Meskipun tidak mudah, orang yang sedang sakit tetap memiliki alasan untuk bergembira.. Sebab, kesusahan, kesedihan, dan rasa sakit yang ia rasakan dapat menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ
“Tidaklah seorang muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, kecuali akan dihapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari 5661 & Muslim 651)
Dari Ummu Al Ala’ radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
عَادَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَرِيْضَةً، فَقَالَ : اَبْشِرِىْ يَا أُمّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ
“Rasulullah ﷺ menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata: “Gembiralah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan – kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak.” (HR. Abu Dawud no. 3092)
Mendapatkan Pahala Amal Yang Dilazimi Saat Sehat
Mungkin ada beberapa orang yang tatkala tertimpa penyakit bersedih karena tidak bisa malakukan aktivitas sehari-hari: tidak bisa shalat jamaah ke masjid, tidak bisa mendatangi majlis taklim, tidak bisa sahalat tahajud, tidak bisa membaca Al Qur’an, tidak bisa mencari nafkah dan tidak bisa melakukan ibadah-ibadah lainnya yang biasa dilakukan saat sehat.
Meski demikian, seorang muslim yang tengah sakit tidak boleh berkepanjangan sedih karena Allah ﷻ ternyata tetap mencatat pahala ibadah bagi mereka yang sakit, yakni terhadap ibadah dan aktifitas baik lainnya yang ia lazimi sewaktu sehat.
Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa bermukim dan sehat.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya, Imam Ahmad dalam Musnad-nya no.18848)
Untuk itulah, sudah sepantasnya bagi seseorang yang masih dalam kondisi sehat untuk memaksimalkan ibadah dan berbagai aktivitas kebaikan lainnya. Dengan begitu, ia tetap akan mendapatkan pahala kebaikan tersebut ketika suatu saat tidak mampu melakukannya karena udzur sakit.
Inilah hikmah dari nasehat Nabi ﷺ, dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ wasalam pernah menasehati seseorang:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya IV / 341. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Mendapatkan Kemuliaan di Akhirat
Orang yang tengah terbaring sakit benar -benar akan mendapatkan pahala yang besar atas sakitnya tersebut. Bahkan kelak di akhirat orang-orang yang sewaktu di dunia-nya tidak pernah merasakan perihnya sakit menginginkan seandainya ia dikembalikan kedunia untuk merasakan sakit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ. مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.
”Ahlu sehat (di dunia) pada hari kiamat berkhayal kalau saja kulit mereka dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia (untuk merasakan sakit), setelah mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan (sakit) sewaktu disurga.” (HR. Baihaqi 6791, disebutkan syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah 2206)
Penutup
Demikianlah keutamaan yang agung bagi seorang muslim yang sedang mengalami sakit, selama ia mampu bersabar, ridha terhadap ketetapan Allah Ta’ala, tidak berobat dengan sesuatu yang haram, serta tidak menempuh cara-cara yang dilarang oleh agama. Wallahu a’lam bish-shawab.










