KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara bukti keimanan seseorang adalah dengan mencintai Baginda Rasulullah ﷺ.

Allah ﷻ berfirman,

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  ٢٤

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah, ayat ke-24)

Asy-Syaikh as-Sa’diy rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya menjelaskan bahwa “Ayat yang mulia ini merupakan dalil tentang wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta mendahulukan kecintaan kepada keduanya daripada kecintaan kepada segala sesuatu.” (Tafsir As-Sa’diy)

Lantas, mengapa kita harus mencintai Rasulullah ﷺ melebihi kecintaan kepada siapapun?

Pertama, mencintai Nabi ﷺ merupakan sebab seseorang merasakan manisnya iman.

Diantara sebab-sebab seseorang meraih manisnya iman adalah dengan memberikan kecintaan kepada nabi ﷺ melebihi seluruh makhluk.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu ta’ala, Rasulullah ﷺ bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Dua Sumber Kebahagiaan

“Ada tiga perkara; barang siapa memiliki ketiganya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain keduanya. Kedua, ia mencintai seseorang, dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Ketiga, ia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci jika dirinya dilemparkan ke dalam api.” (HR. al-Bukhari no.16)

Al-Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa makna ‘halawatul iman’, “manisnya iman”, adalah merasakan kenikmatan dalam melakukan ketaatan, mampu menanggung berbagai kesulitan dalam menjalankan agama, serta lebih mengutamakan ketaatan daripada kesenangan-kesenangan dunia. (Fathul Bari)

Kedua, mencintai nabi ﷺ menjadi sebab seseorang akan bersama beliau di surga

Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ perihal hari kiamat. Ia berkata, “Kapan hari kiamat itu?”. Beliau ﷺ balik bertanya, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?”. Ia menjawab, “Aku tidak mempersiapkan apa-apa, kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ.”

Lantas, beliau ﷺ bersabda:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Kemudian Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “aku tidak pernah merasa begitu gembira karena sesuatu sebagaimana kegembiraan kami ketika mendengar sabda Nabi ﷺ, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Anas radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “maka aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar. Dan aku berharap dapat bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku tidak mampu beramal seperti amalan mereka.” (HR. al-Bukhari no. 3688)

Ketiga, mencintai Nabi ﷺ adalah sebab meraih kesempurnaan iman

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia menjadikan aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari no. 15)

Disebutkan di dalam Fathul Bari, bahwa berdasarkan hadis ini, barang siapa yang tidak mendapati dalam dirinya kecenderungan untuk mencintai Rasulullah ﷺ melebihi seluruh makhluk, maka keimanannya belum sempurna.

Baca Juga:  Khutbah Idul Adha 1446 H: Tiga Pilar Pengorbanan - Taat, Ikhlas, dan Sabar ala Ibrahim dan Isma'il

Hal ini sebagaimana ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي

“Wahai, Rasululah! Sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.”

Mendengar itu, Nabi ﷺ bersabda,

لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Maka, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,

فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Kalau begitu, sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” (HR. Al-Bukhari no. 6632)

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya dan kelak dikumpulkan bersama beliau di dalam surga.

وَٱلۡعَصۡرِ  ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ  ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ  ٣

KHUTBAH II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بَأَمْرٍ عَظِيْمٍ, أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ

فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وَحُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَاجْعَلْ حُبَّ نَبِيِّكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَنْفُسِنَا وَأَهْلِينَا وَأَمْوَالِنَا وَسَائِرِ خَلْقِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ سُنَّتِهِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ، وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي جَنَّاتِكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ أَقِيمُواْ الصَّلَاةَ