Kaum Muslimin yang kami hormati..
Pada kajian umum ini kami akan bahas sebuah hadits yang amat akrab bagi kita berikut penjelasan singkatnya, yang mudah-mudahan kita bisa mengambil banyak manfaat.
Dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara yang lainnya: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya IV / 341. Al Hakim mengatakan shahih sesuai syarat Bukhari)
Al Munawi rahimahullah mengatakan:
فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا
“Lima hal ini barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At-Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)
Penjelasan
Muda Sebelum Tua
Nasehat dari baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pertama adalah kewajiban memanfaatkan masa muda sebelum datangnya masa tua.
Tentang masa muda, Allah Ta’ala menyebutkan dalam Firman-Nya:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:
“(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudhgoh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, inilah fase munculnya kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban, inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan manusia.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)
Makanya, kita harus memanfaatkan masa muda dengan sebaik mungkin, agar bisa memperoleh kebaikan (ganjaran) berlimpah disaat usia senja nanti.
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin: 4-6)
Ibrahim An Nakho’i juga Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata: “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (Kitab. Zaadul Maysir IX / 172-174)
Diakhirat kelak orang yang menggunakan masa mudanya untuk berbuat baik akan mendapatkan kebaikan berupa nuangan Sang Maha Kuasa.
Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ و ذكر منها؛ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِد
“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, beliau menyebutkan salahsatunya: “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)*
Sehat Sebelum Sakit
Gunakan masa sehatmu untuk banyak melakukan ketaatan, sehingga sewaktu sakitmu engkau bisa mendapatkan kebaikan yang pernah engkau kerjakan saat sehat, meski engkau meninggalkannya, karena udzur sakitmu.
Dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Bahwasannya, Rasulullah shaallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
إذَا مَرِضَ العَبْدُ، أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, ditulis untuknya amalan yang biasa dia kerjakan di saat masih sehat dan tidak bepergian.” (H.R. Bukhari no. 2996)*
Kaya Sebelum Miskin
Ketahuilah kekayaan adalah nikmat, karena seseorang bisa banyak melakukan kebaikan dengan hartanya. Amalan yang dilakukan orang miskin bisa dilakukan orang kaya, namun tidak semua amalan orang kaya bisa dilakukan orang miskin.
Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:
جَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا; ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلاَ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا ، وَيَعْتَمِرُونَ ، وَيُجَاهِدُونَ ، وَيَتَصَدَّقُونَ قَالَ; أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ ، إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ ، وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ
“Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari no. 843)
Abu Shalih yang meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata:
فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ »
“Orang – orang fakir dari kalangan Muhajirin kembali menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata: “Saudara-saudara kami yang punya harta (orang kaya) akhirnya mendengar apa yang kami lakukan. Lantas mereka pun melakukan semisal itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan, “Inilah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang ia kehendaki.” (HR. Muslim no. 595)
Lapang Sebelum Sempit
Waktu luang adalah nikmat, dengannya seorang akan mendapatkan banyak manfaat, namun sayang banyak yang menyia – nyiakannya.
Dari shahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412)
Makanya seorang muslim harus benar-benar memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan kegiatan yang manfaat untuk dunia maupun akhirat nya. Jangan sampai ada seorang mukmin ataupun mukminah nganggur dari melakukan kesibukan yang bermanfaat, baik kesibukan untuk kebaikan dunianya maupun untuk agamanya.
Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:
إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.” (Al Adabusy Syar’iyyah, Ibnu Muflih IV / 303)*
Disamping itu, waktu luang adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ, و ذكر منها: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya (salah satunya): “Tentang umurnya di manakah ia habiskan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Dishahihkan Al Albani)
Hidup Sebelum Mati
Gunakan hidup untuk memperbanyak & mengumpulkan kebaikan, sebelum datang kematian yang tidak lagi seseorang mampu melakukan satupun kebaikan. Yang demikian itu karena memang dunia adalah tempat untuk bercocok tanam, akhirat tempat memanen.
Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
”Dunia berjalan menjauhi kita dan akhirat datang menjelang di hadapan kita. Dunia dan akhirat masing-masing memiliki anak-anak. Maka, jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah masa beramal dan tidak ada hisab (perhitungan) sedangkan besok adalah masa hisab dan tidak ada amal.”
Mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa mengaruniakan kebaikan dan taufik-Nya pada kita, sehingga kita mampu melaksanakan kelima nasehat yang Agung tersebut.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamin.










