Pelajaran dari perbedaan lafaz تَسْتَطِيع dan تَسْطِع dalam Surah Al-Kahfi.
Bagi yang terbiasa membaca Surah Al-Kahfi, atau bahkan menghafalnya, tentu tidak asing dengan kisah Nabi Musa dan Khidir alaihimas salam.
Tulisan ini tidak bermaksud mengulas kembali kisah tersebut, karena kita dapat membacanya langsung dalam Al-Qur’an beserta terjemahannya. Namun, ada satu bagian kecil yang menarik untuk diperhatikan.
Di penghujung kisah, terdapat dua ayat yang sekilas tampak sama, tetapi memiliki sedikit perbedaan.
Pada ayat ke-78, Khidir berkata,
سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
“Akan kuberitahukan kepadamu tujuan dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”
Kemudian, setelah seluruh penjelasan selesai, Allah berfirman pada ayat ke-82,
ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
“Demikianlah penjelasan tentang perkara-perkara yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”
Sekilas kedua ayat tersebut tampak sama. Namun, jika diperhatikan, terdapat satu perubahan yang menarik. Lafaz تَسْتَطِعْ berubah menjadi تَسْطِعْ. Ada beberapa huruf yang dihilangkan sehingga bentuknya menjadi lebih ringkas.
Hikmah yang Indah
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan hikmah yang sangat indah di balik perubahan lafaz tersebut. Beliau berkata,
وَقَوْلُهُ: ﴿ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا﴾…
Kemudian beliau menjelaskan bahwa pada awal kisah, Nabi Musa alaihissalam menyaksikan berbagai peristiwa yang terasa berat dan sulit dipahami. Karena itu, Khidir menggunakan lafaz yang lebih panjang:
﴿سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا﴾
Namun setelah semua peristiwa itu dijelaskan, keraguan pun hilang dan beban tersebut menjadi lebih ringan. Pada bagian akhir kisah, Allah menggunakan lafaz yang lebih ringkas:
﴿ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا﴾
Imam Ibnu Katsir kemudian menyimpulkan bahwa Allah menyandingkan lafaz yang lebih berat dengan keadaan yang memang lebih berat, dan menggunakan lafaz yang lebih ringan untuk keadaan yang telah menjadi lebih ringan.
Hikmah serupa juga tampak pada firman Allah Ta’ala,
﴿فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا﴾
“Maka mereka tidak mampu memanjatnya dan mereka juga tidak mampu melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 97)
Pada ayat ini, kata اسْطَاعُوا digunakan ketika berbicara tentang memanjat dinding, sebuah pekerjaan yang relatif lebih ringan. Adapun lafaz اسْتَطَاعُوا digunakan ketika berbicara tentang melubangi dinding, pekerjaan yang tentu jauh lebih berat.
Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memilih setiap lafaz dengan sangat cermat. Perbedaan bentuk katanya bukan sekadar variasi bahasa, tetapi selaras dengan makna yang ingin disampaikan.
Tadabbur
Keindahan bahasa Al-Qur’an ini tidak hanya menunjukkan kesempurnaan susunan katanya, tetapi juga mengandung pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Terlebih, setiap orang pasti akan melewati berbagai ujian yang tidak selalu mudah dipahami.
Sering kali yang membuat hati terasa berat bukan hanya karena ujian itu sendiri, tetapi karena kita belum mengetahui hikmah di baliknya.
Nabi Musa alaihissalam tidak sedang diuji dengan rasa sakit atau kehilangan. Yang beliau hadapi adalah serangkaian peristiwa yang tampak tidak masuk akal. Perahu yang dilubangi, seorang anak yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan tanpa upah sedikitpun. Selama hikmahnya belum dijelaskan, semua itu terasa berat untuk diterima.
Namun setelah Khidir menjelaskan satu per satu, peristiwanya tidak berubah. Perahu tetap berlubang. Anak itu tetap telah meninggal. Tembok itu tetap ditegakkan. Yang berubah adalah pemahaman Nabi Musa terhadap semua itu.
Di sinilah letak pelajarannya. Tidak semua yang kita alami akan segera kita pahami. Ada kalanya Allah belum mengubah keadaan kita, tetapi Dia sedang mengajarkan kita untuk percaya kepada hikmah-Nya. Dan sering kali, hati menjadi lebih tenang bukan karena ujian telah selesai, melainkan karena kita yakin bahwa di balik setiap ketetapan Allah pasti ada hikmah yang sempurna. Wallahu a’lam bi as-shawab










