Keutamaan Ibadah Haji
Kegembiraan yang tak terhingga hari ini tengah dirasakan oleh saudara-saudara kita yang Allah pilih menjadi tamu-Nya untuk menunaikan ibadah haji.
Betapa tidak, mereka memperoleh kesempatan besar untuk meraih pahala, ampunan, dan berbagai keutamaan dari ibadah yang mulia tersebut.
Di antara keutamaan-keutamaan ibadah haji adalah sebagai berikut:
Menunaikan Kewajiban Agung
Salahsatu kewajiban dari kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah menunaikan ibadah haji (juga umrah), yakni bagi mereka yang kuasa.
Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ dalam khutbahnya bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا. فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ
“Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR. Muslim, no. 1337)
Haji Mabrur Termasuk Amalan Yang Paling Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
سُئِلَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ..؟؟ قَالَ : إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ . قِيلَ : ثُمَّ مَاذَا.؟ قَالَ : جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ . قِيلَ : ثُمَّ مَاذَا قَالَ : حَجٌّ مَبْرُورٌ
“Nabi ﷺ ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau ﷺ menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau ﷺ menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi ﷺ.” (HR. Bukhari no. 1519)
Menghapuskan Dosa-Dosa
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521 dari Abu Hurairah)
Menghilangkan Kefakiran
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih dari Ibnu Mas’ud)
Haji Mabrur Balasannya Surga
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349 dari Abu Hurairah)
Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim IX/119)
Pengertian Haji Mabrur
Ibnu Abil Izz rahimahullah berkata:
“Haji mabrur adalah orang yang melaksanakan haji dengan bekal harta yang halal, niat yang ikhlas, serta melaksanakan semua rukun, wajib dan sunnah haji.” (Kitab. Minhatul Allam Syarh Bulughil Maram Kitabul. Hajj)
Bekal Untuk Saudaraku Yang Berangkat Haji
Kepada bapak / ibu calhaj, kami wasiatkan kepada panjenengan beberapa hal, sebagai berikut:
Pertama: Luruskan Niat
Jaga niat haji kita semata mencari ridho Allah dan beribadah kepada-Nya semata. Jangan punya niat rendahan, misal: mencari pujian, ingin mendapat gelar haji-hajah atau agar usaha dan bisnisnya semakin maju.
Sebab niat itu merupakan penentu diterima – tidaknya semua amal kebaikan, besar – kecilnya kebaikan yang akan diterima.
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
العمل بغير إخلاص ولا اقتداء كالمسافر يملأ جرابه رملاً يثقله ولا ينفعه
“Amal tanpa keikhlasan dan tidak mencocoki Sunnah (tidak ittiba’) seperti musafir yang mengisi kantongnya dengan pasir. Ia memberatkannya namun tidak bermanfaat.” (Kitabul. Adab)
Niat juga salah satu sebab seorang mampu sabar dan istiqamah.
Nasihat Kedua: Berbekal Dengan Yang Halal
Bekal yang haram menyebabkan ibadah haji menjadi tidak bernilai dan tidak diterima (amalan menjadi sia-sia).
Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata: “Bahwa ada seorang yang menghadap Nabi ﷺ seraya berkata: “Yaa Rasulullah, sesungguhnya khamer itu adalah dulu usaha saya, dan saya banyak mengumpulkan harta dari usaha tersebut. Apakah harta saya bermanfaat untuk ku kalau aku gunakan untuk ibadah?”
Kemudian beliau menjawab: “Jikalau hartamu yang haram itu kau gunakan untuk jihad, atau menunaikan haji atau bersedekah, maka hal itu tidak ada manfaat bagimu walau sekedar senilai sebelah sayap nyamuk.”
Beliau melanjutkan: “Sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” Kemudian turunlah Ayat 100 dari surat Al Maidah sebagai pembenar atas jawaban Nabi. (Al Kabair Adz Dzahabi)
Nasihat Ketiga: Perbanyak Berdoa
Saudaraku calon Tamu Allah, Perbanyaklah berdoa dan mendoakan kebaikan selama perjalanan dan ketika berada di Tanah Suci.
Karena sesungguhnya musafir adalah salahsatu golongan manusia yang ijabah doanya:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini)
Nasihat Keempat: Perbanyak Ibadah
Karena disana tempat yang istimewa untuk beribadah, di Masjidil Haram ibadah dilipatkan 100.000 kali, di Nabawy 1.000 kali, di Raudhah seperti di jannah, di Masjid Quba, shalat disana bernilai umrah, dan lainnya.
Jangan biarkan kesempatan mulia di Tanah Suci berlalu sia-sia, menghabiskan waktu untuk omong kosong, sekedar belanja-belanja, dan dan sebagainya.
Nasihat Kelima: Taat Pada Amir (Ketua) Regu dan Rombongan
Satu lagi, taatlah kepada ketua rombongan atau amir perjalanan, karena taat kepadanya adalah kewajiban dan menyelisihinya akan menimbulkan perpecahan dan kegaduhan. Selama tidak diperintahkan bermaksiat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ
“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ﷻ, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak).” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
Teriring Doa
Mudah2an Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada seluruh jamaah, tambahan taufik, kesehatan, keberkahan dan pulang membawa predikat haji mabrur.
اللهم بَلِغْهُمْ المكّةَ والمدينةَ والْعَرَفَةَ في السلام و الإسلام.
اللهم وارْزُقْهم الْحَجَّ المَبْرورً
اللهم ارْضَ عَنهم وَاغْفِرْ لَهم وَارْحَمْهم.. لا إله إلا أنت.
اللهم انْصُرْهم عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ و الله انصرهم على القوم الظالمين
“Ya Allah, sampaikanlah mereka ke Makkah, Madinah, dan Arafah dalam keadaan selamat dan penuh keislaman.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada mereka haji yang mabrur.
Ya Allah, ridhailah mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.
Ya Allah, tolonglah mereka dari kaum kafir, dan tolonglah mereka dari kaum yang zalim.”










