Dalam perjalanan dakwah Islam, sering kali orang menyamakan antara dakwah dan tarbiyah, padahal keduanya berjalan berdampingan dengan karakter yang berbeda.

Dakwah itu seperti mengetuk pintu, mengajak, mengenalkan, membuka jalan bagi siapa saja agar mengenal kebenaran. Karena itu sifatnya luas, terbuka, dan tidak menuntut kesiapan yang tinggi. Siapa pun bisa datang, siapa pun bisa mendengar. Maka wajar jika dalam dakwah kita mendapati keragaman. Ada yang tersentuh, ada yang biasa saja, bahkan ada yang pergi tanpa bekas.

Berbeda dengan tarbiyah. Ia bukan sekadar mengetuk pintu, tapi menemani seseorang berjalan di dalamnya. Tarbiyah itu proses yang pelan, berulang, dan menuntut kesungguhan. Di dalamnya ada pembiasaan, penanaman adab, penguatan iman dan pembentukan karakter. Tidak semua orang siap untuk ini, karena tarbiyah memang berbicara tentang komitmen, bukan sekadar ketertarikan.

Dari sini kita bisa melihat dengan lebih jernih, yaitu posisi pesantren dan madrasah sejatinya berada di wilayah tarbiyah. Orang yang sudah masuk ke dalamnya bukan lagi sekadar orang yang diajak, tapi orang yang siap dibina. Mereka datang bukan hanya untuk mendengar, tapi untuk berubah. Maka yang dibutuhkan bukan hanya ceramah yang menyentuh, tapi sistem yang membentuk.

Ketika pondok atau madrasah bergeser menjadi sekadar ruang dakwah, perlahan ruh tarbiyah akan melemah. Pelajaran menjadi ringan, tuntutan berkurang, adab tidak lagi ditekankan. Hasilnya mungkin terlihat banyak yang hadir, banyak yang paham, tapi tidak semua bertahan. Ilmu tidak benar-benar mengakar dalam diri.

Sebaliknya, ketika ia dijaga sebagai tempat tarbiyah, suasananya akan berbeda. Ada keseriusan, ada kesinambungan, ada perhatian pada detail kecil yang membentuk jiwa. Mungkin tidak selalu ramai, tapi yang tumbuh darinya adalah pribadi-pribadi yang kokoh. Yang tidak hanya tahu, tapi hidup dengan ilmunya.

Bukan berarti tidak ada dakwah di dalam pesantren dan madrasah. Dakwah tetap ada, tapi ia menjadi pelengkap, bukan inti. Intinya tetap tarbiyah adalah membentuk manusia, bukan sekadar mengumpulkan mereka.

Baca Juga:  Fiqih Kurban - Bagian ke-1: Pengertian, Hukum dan Hikmah Ibadah Kurban

Di sinilah letak hikmahnya, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kapan kita membuka pintu, dan kapan kita menuntun langkah. Karena tidak semua yang datang siap dibina, dan tidak semua yang sudah masuk cukup hanya diajak.


Kolumnis: Ali Abu Maryam