اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Setelah membahas firman Allah Ta‘ala pada ayat kelima, yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Maka pada ayat berikutnya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bentuk permohonan yang paling agung dan paling dibutuhkan oleh setiap manusia, yaitu permohonan hidayah menuju jalan yang lurus. Sebab, seorang hamba tidak akan mampu beribadah dengan benar dan istiqamah di atas ketaatan kecuali dengan petunjuk, taufik, dan pertolongan dari Allah.

Ayat ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan seorang hamba terhadap hidayah. Bahkan seorang mukmin yang telah beriman pun tetap diperintahkan untuk terus memohon petunjuk kepada Allah setiap hari dalam shalatnya, agar diteguhkan di atas kebenaran dan dijauhkan dari jalan kesesatan.

Tafsir Ayat

Makna Kata:

اِهْدِنَا artinya adalah berilah petunjuk-Mu kepada kami dan tetapkan petunjuk tersebut.

الصِّرَاطَ adalah jalan yang mengantarkan kepada keridhaan-Mu dan surga-Mu, yaitu dengan beragama Islam.

المُسْتَقِيْمَ artinya yang tidak melenceng dari kebenaran, serta tidak berbelok dari hidayah.

Makna Ayat

Rahasia Berdoa setelah Memuji dan Menyebut Sifat Allah

Setelah terlebih dahulu memuji Dzat yang diminta, yaitu Allah Ta‘ala, serta menyatakan bahwa hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah hal itu diiringi dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi: “Setengahnya untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Inilah keadaan yang sangat sempurna bagi seorang yang mengajukan permintaan. Pertama, ia memuji Rabb yang akan ia mintai, kemudian memohon kebutuhan dirinya sendiri dan juga saudaranya dari kalangan orang-orang beriman melalui ucapan:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Cara seperti ini lebih membawa kepada keberhasilan dan lebih dekat untuk diperkenankan oleh-Nya. Karena itulah Allah mengajarkan cara tersebut kepada hamba-hamba-Nya, sebab Dia Maha Sempurna.

Terkadang permohonan diungkapkan dalam bentuk kalimat berita yang menggambarkan keadaan dan kebutuhan si pemohon, sebagaimana ucapan Nabi Musa dalam firman Allah Ta‘ala:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)

Terkadang pula permohonan didahului dengan menyebut sifat-sifat Allah, sebagaimana doa Dzun Nun (Nabi Yunus)

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Anbiya: 87)

Yang dimaksud dengan meminta hidayah dalam ayat ihdinash shirathal mustaqim adalah hidayah berupa bimbingan dan taufik.[1]

Menurut para ulama —sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah hidayah terbagi menjadi dua macam:

1. Hidayah ‘Ilmi wa Irsyad

Yaitu sekadar memberikan penjelasan dan petunjuk menuju kebenaran. Contohnya adalah firman Allah Ta‘ala:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”  (QS. Al-Baqarah: 185)

2. Hidayah Taufiq wa ‘Amal

Yaitu hidayah untuk menerima, mengamalkan, dan istiqamah di atas syariat. Contohnya adalah firman Allah Ta‘ala:

Baca Juga:  Tafsir Al-Fatihah Ayat 3: Rahmat Allah yang Tak Pernah Putus

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Hidayah jenis kedua ini terkadang tidak diperoleh oleh seseorang, meskipun ia telah mengetahui kebenaran. Allah Ta‘ala berfirman:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk. Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Fussilat: 17)

Ayat tersebut menyebutkan:

فَهَدَيْنَاهُمْ

“Maka Kami beri mereka petunjuk.”

Maksudnya, Allah telah menunjukkan kepada mereka jalan kebenaran, namun mereka tidak mau menerima dan mengikutinya.[2]

Mendalami makna “Jalan yang Lurus”

Syaikh As-Sa’di Rahimahullah menerangkan sebagaimana berikut ini. Kemudian Allah berfirman “Tunjukilah kami jalan yang lurus”, yakni tunjukilah kami dan berilah taufik kepada kami (untuk meniti) jalan yang lurus, yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kepada keridaan Allah dan surga-Nya. Hal ini diperoleh dengan cara mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.

Ada dua hal dalam hal meminta petunjuk yaitu tunjukilah kami kepada shirath dan tunjukilah di dalam shirath. Hidayah (petunjuk) kepada shirath adalah supaya tetap teguh pada ajaran Islam dan meninggalkan agama-agama selain Islam. Sedangkan hidayah di dalam shirath mencakup hidayah untuk mengamalkan seluruh cabang agama, baik secara ilmu maupun amal. Ini merupakan doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi para hamba. Maka, wajib bagi setiap orang untuk berdoa kepada Allah dengan doa ini pada setiap rakaat shalat yang ia kerjakan, karena begitu butuhnya ia pada doa ini.

Yang dimaksud jalan yang lurus dalam surah ini adalah jalan yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, yakni jalannya orang-orang yang mendapat nikmat. Merekalah kalangan nabi shiddiqin (orang yang jujur), syuhada’ (mati syahid), dan shalihin.

Firman Allah Ta’ala “bukan jalan orang yang Engkau murkai”, yakni mereka yang mengetahui kebenaran (memiliki ilmu), namun meninggalkannya seperti orang-orang Yahudi dan yang semisal dengan mereka.

Firman Allah Ta’ala “bukan pula jalannya orang-orang yang sesat” yakni orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti orang-orang Nasrani dan yang semisal dengan mereka.[3]

Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan bahwa ash-shirathal mustaqim sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja‘far Ibnu Jarir Rahimahullah adalah:

هُوَ الطَّرِيقُ الْوَاضِحُ الَّذِي لَا اعْوِجَاجَ فِيهِ

“Jalan yang jelas dan tidak memiliki penyimpangan sedikit pun.”

Para ulama terdahulu maupun belakangan memang berbeda-beda dalam menafsirkan makna jalan yang lurus. Namun Ibnu Katsir Rahimahullah menegaskan: “Walaupun seluruh penafsiran tentang shirathal mustaqim itu kembali kepada satu makna, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya.”[4]

Imam Abu Ja’far ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah mengatakan bahwa takwil yang lebih utama bagi ayat berikut, yakni: Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah: 6) ialah, “Berilah kami taufik keteguhan dalam mengerjakan semua yang Engkau ridhai dan semua ucapan serta perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat taufik di antara hamba-hamba-Mu”, yang demikian itu adalah siratal mustaqim (jalan yang lurus). Dikatakan demikian karena orang yang telah diberi taufik untuk mengerjakan semua perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapat nikmat taufik dari Allah di antara hamba-hamba-Nya —yakni dari kalangan para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang shalih— berarti dia telah mendapat taufik dalam Islam, berpegang teguh kepada Kitabullah, mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta mengikuti jejak Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan empat khalifah sesudahnya serta jejak setiap hamba yang shalih. Semua itu termasuk ke dalam pengertian siratal mustaqim (jalan yang lurus).[5]

Baca Juga:  Adab di Dalam Majlis

Mengapa Orang Beriman Masih Meminta Hidayah?

Apabila ada yang bertanya: “Mengapa seorang mukmin masih diperintahkan memohon hidayah dalam setiap shalat dan dalam keadaan lainnya, padahal ia sendiri telah mendapatkan hidayah? Bukankah itu berarti meminta sesuatu yang sudah dimiliki?”

Maka jawabannya adalah: Tidak demikian. Seandainya seorang hamba tidak membutuhkan permohonan hidayah siang dan malam, tentu Allah tidak akan membimbingnya untuk terus memintanya. Sesungguhnya seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah dalam setiap keadaan agar diteguhkan hatinya di atas hidayah, ditambah petunjuknya, dipertajam pandangannya terhadap kebenaran, serta dijaga agar tetap istiqamah di atas jalan petunjuk. Karena seorang hamba tidak mampu mendatangkan manfaat maupun menolak bahaya bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak Allah.

Oleh sebab itu, Allah membimbing hamba-Nya agar senantiasa memohon pertolongan, keteguhan, dan taufik kepada-Nya setiap waktu. Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk terus memohon kepada-Nya, sebab Allah telah menjamin akan mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Nya, terlebih bagi orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya siang dan malam.

Allah telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلى رَسُولِهِ وَالْكِتابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

Wahai orang-orangyang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (QS. An-Nisa: 136)

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk beriman. Hal seperti ini bukan termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang telah teraih, melainkan makna yang dimaksud ialah “perintah untuk lebih meneguhkan iman dan terus-menerus melakukan semua amal perbuatan yang melestarikan keimanan”. Allah telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengucapkan doa berikut yang termaktub di dalam firman-Nya:

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا وَهَبْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). (QS. Ali Imran: 8)

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa makna firman Allah Ta‘ala:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Adalah, “Tetapkanlah kami di atas jalan yang lurus dan janganlah Engkau palingkan kami kepada jalan yang lain.”[6]


[1] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:136-137

[2] Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, hlm. 17–18.

[3] Tafsir As-Sa’di, hlm. 26

[4] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:137

[5] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:139

[6] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:139