ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Artinya: “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Al-Qur’an adalah sumber utama petunjuk hidup umat Islam, dan surah Al-Fatihah menjadi pintu gerbang yang setiap hari dibaca ketika shalat. Pada ayat ketiganya, Allah memperkenalkan diri dengan dua namanya yang agung: Ar-Raḥman dan Ar-Raḥim. Dua sifat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan penegasan bahwa kasih sayang Allah meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali.

Ketika seorang muslim membaca ayat ini, sesungguhnya ia sedang diajak merenungi betapa luasnya rahmat Allah yang mencakup kehidupan dunia dan akhirat. Ar-Raḥman menggambarkan kasih sayang Allah yang meliputi semua makhluk-Nya, sementara Ar-Raḥim menunjukkan kasih sayang khusus yang dianugerahkan kepada hamba-hamba yang beriman. Dengan memahami keduanya, kita diajak untuk menumbuhkan rasa syukur, optimisme, serta keyakinan bahwa setiap langkah hidup selalu berada dalam lindungan dan kasih sayang-Nya.

Ayat ini menjadi pengingat lembut bahwa Allah bukan hanya Maha Kuasa, tetapi juga Maha Pengasih. Dalam kehidupan yang penuh ujian, keyakinan terhadap sifat Ar-Raḥman dan Ar-Raḥim menghadirkan ketenangan, mengajarkan kesabaran, dan menuntun manusia untuk menebarkan kasih sayang kepada sesama.

Tafsir ayat

Kata ini berasal dari kata ar-rahmah, dengan fi’il rahima yang menurut Ibnu Manzhur dalam Lisan al-‘Arab setidaknya memiliki dua makna dasar yaitu al-Riqqah (lembut/halus), al-ta’aththuf (keramahan, cinta), dan al-marhamah (kasih sayang, simpati, kemurahan hati).[1]

Al-Qurtubi mengatakan, “Setelah menyebut dirinya sebagai Rabbul ‘Alamiin (Rabb semesta alam), maka Allah menyatakan bahwa diri-Nya adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sebab, ketika Allah mensifati dirinya sebagai Rabbul ‘Alamiin, yang berarti berisi tarhib (menakut-nakuti dan mengancam), maka Allah segera menyandingkannya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang mengandung kata targhib (dorongan, motivasi, atau bujukan untuk melakukan kebaikan). Hal yang semisalnya sebagaimana yang terkandung di dalam firman-Nya:

نَبِّئْ عِبادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنَّ عَذابِي هُوَ الْعَذابُ الْأَلِيمُ

Baca Juga:  Rubrik Ngudoroso: "Ekonomi Lesu"

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50)

Juga dalam firman Allah yang lainnya, yaitu:

إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 165)

Lafaz Rabb dalam ayat tersebut mengandung makna tarhib, sedangkan Ar-Rahmanir Rahim mengandung makna targhib.

Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ العقوبة ما طمع في جنته أَحَدٌ وَلَوْ يُعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ من الرحمة ما قنط من رحمته أحد   

“Seandainya orang yang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa siksaan, niscaya tiada seorang pun yang tamak menginginkan surga-Nya. Seandainya orang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa rahmat, niscaya tiada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya.” (HR. Muslim)[2]

Sementara As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan, “Lafaz Ar-Rahman dan Ar-Raḥim merupakan dua nama yang menunjukkan bahwa Allah memiliki Rahmat yang luas dan besar yang mencakup segala sesuatu, rahmat-Nya mencakup bagi seluruh yang hidup. dan Allah menetapkan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bertakwa yang mengikuti para Nabi dan Rasul -Nya. maka bagi mereka akan mendapatkan rahmat yang mutlak. Adapun selain mereka akan mendapatkan bagian yang sedikit dari Rahmat itu. dan ketahuilah diantara kaidah yang disepakati oleh para salaf umat dan para imamnya bahwasanya iman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah dan hukum-hukum yang terkandung dalam sifat-Nya.

Sebagai contoh, mereka beriman bahwasanya Allah maha pengasih lagi maha penyayang, artinya Allah memiliki Rahmat yang disifati oleh Allah dan berhubungan dengan yang dirahmati nya yaitu hamba-Nya. maka seluruh nikmat adalah bukti dari rahmat Allah. dan demikian juga pada seluruh nama-nama Allah yang lain. contoh yang lain seperti sifat Allah  “Maha Mengetahui” artinya Allah Maha Mengetahui yang memiliki ilmu yang dengan ilmu itu Allah mengetahui segala sesuatu. Allah Maha Kuasa yang memiliki kekuasaan yang dengan kekuasaan itu Allah mampu melakukan apapun.[3]

Baca Juga:  Canda Berujung Binasa (Hukum Istihza' Dalam Islam)

Faidah Ayat

Di antara faidah ayat ini adalah:

1. Penetapan kedua nama mulia ini “Ar-Rahmaan Ar-Rahiim” bagi Allah ‘Azza Wa Jalla dan penetapan adanya segala konsekuensi dari rahmat Allah yang berupa sifat dan rahmat Allah yang berupa perbuatan,

2. Rububiyah Allah dibangun di atas rahmat-Nya yang luas yang tercurahkan kepada makhluk-Nya, karena ketika Allah Ta’ala berfirman “Rabbil ‘Alamiin” seakan-akan ada yang bertanya: Jenis rububiyah yang mana? Apakah rububiyah bermakna azab dan siksa ataukah rububiyah bermakna rahmat dan karunia? Allah Ta’ala menjawab: Ar-Rahmaanir-Rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).[4]

Surah Al-Fatihah ayat ketiga ini menyingkap betapa kasih sayang Allah tak pernah terputus, meliputi setiap detik kehidupan hamba-Nya. Dengan menyadari keluasan rahmat ini, semestinya kita semakin tunduk, bersyukur, dan berusaha menebarkan kasih sayang di bumi sebagaimana Allah melimpahkan kasih-Nya kepada seluruh makhluk.


[1] Lisanul Arabi, 12/230

[2] Tafsir Ibnu Katsir, 1/270

[3] Tafsir As-Sa’di, hlm. 39

[4] Tafsir Al-Qur’anul Karim Juz ‘Amma, hlm. 16