KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara adab seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah memiliki rasa malu kepada-Nya.

Secara umum, banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan dan pentingnya sifat malu dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan, rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman itu memiliki tujuh puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, selama rasa malu masih ada pada diri seseorang, selama itu pula masih ada tanda-tanda keimanan di dalam hatinya. Sebaliknya, ketika rasa malu mulai hilang, itu merupakan pertanda berkurangnya iman.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْحَيَاءَ وَالْإِيمَانَ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْآخَرُ

“Sesungguhnya rasa malu dan iman itu selalu berdampingan. Apabila salah satunya diangkat (hilang), maka yang lainnya pun akan ikut terangkat.” (HR. Al-Hakim)

Dan rasa malu yang paling utama adalah malu kepada Allah ﷻ.

Yaitu malu kepada Dzat yang senantiasa melihat kita, di mana pun dan kapan pun kita berada. Tidak ada satu pun amal perbuatan, ucapan, bahkan isi hati kita yang tersembunyi dari pengawasan-Nya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 14:

ألَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Dzulqa'dah

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-‘Alaq: 14)

Allah Ta’ala juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 1:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)

Demikian pula Allah berfirman:

وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَ

Artinya: “Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan.” (QS. An-Nahl ayat 19)

Lantas, apa bukti bahwa seseorang benar-benar telah memiliki rasa malu kepada Allah?

Rasulullah ﷺ telah menjelaskan jawabannya melalui sebuah hadits yang agung. Beliau bersabda:

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Hendaklah kalian memiliki rasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya malu.” Perawi berkata, “Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah memiliki rasa malu, walhamdulillah.'” Beliau bersabda, “Bukan seperti itu. Akan tetapi, malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah hendaknya seseorang menjaga kepala beserta apa yang ada di dalamnya, menjaga perut beserta apa yang dikandungnya, mengingat kematian dan hancurnya jasad. Barang siapa menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Barang siapa melakukan semua itu, sungguh ia telah memiliki rasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya malu.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan menjaga kepala adalah tidak menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah. Termasuk menjaga mata, telinga, dan lisan dari segala perkara yang diharamkan.

Adapun menjaga perut adalah menjaganya dari makanan yang haram, sekaligus menjaga anggota badan yang berkaitan dengannya, seperti tangan, kaki, kemaluan, dan hati, agar tidak digunakan untuk bermaksiat, tetapi untuk meraih ridha Allah Ta’ala.

Baca Juga:  Khutbah Idul Adha 1446 H: Tiga Pilar Pengorbanan - Taat, Ikhlas, dan Sabar ala Ibrahim dan Isma'il

Sedangkan makna mengingat kematian dan kehancuran jasad adalah senantiasa mengingat bahwa suatu saat tubuh ini akan menjadi tulang-belulang yang lapuk di dalam kubur. Dengan mengingatnya, seorang hamba akan lebih mudah meninggalkan maksiat dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Maka kesimpulannya,

Malu kepada allah artinya, malu berbuat maksiat. Malu untuk menggunakan anggota tubuh dan seluruh kenikmatan yang telah allah berikan untuk bermaksiat dan mendurhakainya.

Artinya, orang yang malu senantiasa menghiasi hari-harinya untuk menjadi hamba Allah yang ta’at. Allah ﷻ telah memperingatkan orang-orang beriman agar memanfaatkan nikmat usia yang dianugerahkan-Nya untuk memperbanyak amal saleh, tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup, tidak menunda kebaikan, terlebih lagi meninggalkannya. Sebab akan datang suatu waktu ketika penyesalan tidak lagi berguna dan kesempatan beramal telah tertutup.

وَٱلۡعَصۡرِ  ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ  ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ  ٣

KHUTBAH KEDUA

 اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بَأَمْرٍ عَظِيْمٍ, أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ

فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حَيَاءً مِنْكَ يَمْنَعُنَا مِنْ مَعْصِيَتِكَ، وَخَشْيَةً تُبَلِّغُنَا رِضَاكَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ أَقِيمُواْ الصَّلَاةَ