الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)

Ayat yang kedua dari surah Al-Fatihah ini bukan sekadar rangkaian kata pujian, tetapi sebuah deklarasi iman yang menempatkan Allah sebagai pusat segala kesyukuran, pengakuan, dan pengagungan. Lafadz Alhamdulillahi rabbil ‘alamin mengajarkan manusia untuk memulai setiap langkah dengan kesadaran akan nikmat dan rahmat Allah, serta mengarahkan pandangan kita bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berada dalam genggaman Rububiyah-Nya.

Menariknya, ayat ini hadir di awal surah Al-Fatihah, seolah menjadi fondasi dari seluruh rangkaian doa dan permohonan yang menyusul setelahnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebelum meminta, seorang hamba harus terlebih dahulu memuji, mengakui kebesaran dan kebaikan Sang Pencipta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri menegaskan bahwa doa yang diawali dengan pujian kepada Allah lebih utama dan lebih mudah untuk dikabulkan.

Tafsir Ayat

Lafaz الْحَمْدُ لِلَّهِ (segala puji bagi Allah), ini merupakan sanjungan bagi Allah dengan sifat-sifatnya yang sempurna, dan perbuatan-perbuatannya yang mencakup antara keutamaan dan keadilan bagi Allah segala puji yang sempurna dengan segala jenisnya.

Lafaz رَبِّ الْعَالَمِينَ (yang mengurus sekalian alam), Rabb artinya yang mengurus seluruh alam (selain Allah) yang telah Allah ciptakan. Allah telah persiapkan untuk mereka sarana-sarana dan Allah memberi nikmat kepada mereka dengan nikmat yang agung yang seandainya Jika mereka kehilangan nikmat itu maka tidak mungkin mereka bisa terus ada bertahan hidup. tidak ada nikmat yang mereka dapatkan kecuali dari Allah ta’ala.

Pemeliharaan Allah kepada makhluk ada dua jenis, yaitu:

Pertama: pemeliharaan umum yaitu dengan Allah menciptakan makhluk dan memberi mereka rezeki serta Hidayah untuk kemaslahatan mereka yang dengan itu mereka bisa tinggal di dunia.

Kedua : pemeliharaan khusus, yaitu pemeliharaan  Allah bagi para kekasihnya. maka Allah memberi pemeliharaan kepada mereka dengan iman dan Taufik dan menyempurnakannya bagi mereka dan mencegah mereka dari kejahatan dan segala penghalang antara mereka dengan Allah.

Hakikat nya adalah pemeliharaan bimbingan taufik untuk melakukan kebaikan yang menjaga dari segala keburukan. Bisa jadi ini merupakan rahasia dari makna lafaz robb sebagaimana terjadi bacaan  doa-doa para nabi dengan memakai kalimat “robb”. permintaan Para nabi masuk di bawah pemeliharaan yang khusus.

Maka firman Allah رَبِّ الْعَالَمِينَ (yang mengurus sekalian alam), menunjukkan kepada keesaan Allah dalam penciptaan pengaturan pemberi nikmat dan kesempurnaan kekayaannya dan juga kesempurnaan kebutuhan seluruh makhluk kepada Allah dalam segala bentuk dan sudut pandang.[1]

Keutamaan Hamdalah

1. Hamdalah adalah sebaik-baiknya doa.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.” (HR. At-Tirmidzi)

2. Salah satu dari empat ucapan yang disukai Allah

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ.

Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim).

3. Termasuk salah satu dari dzikir yang berpahala agung.

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَتْ مَرَّ بِى ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ – أَوْ كَمَا قَالَتْ – فَمُرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ. قَالَ : سَبِّحِى اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاحْمَدِى اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَكَبِّرِى اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ وَهَلِّلِى اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ – قَالَ ابْنُ خَلَفٍ أَحْسِبُهُ قَالَ – تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِىَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ.

Dari Ummi Hani’ binti Abu Thalib Radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk.” Beliau bersabda: “Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma’il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali.” Ibnu Khalaf berkata; saya mengira beliau bersabda: “Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu.” (HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

« إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنَ الْكَلاَمِ أَرْبَعاً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلاَثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلاَثُونَ سَيِّئَةً

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memilih empat perkataan: subhanallah (Maha suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan laa ilaaha illa allah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan Allahu akbar (Allah maha besar). Barangsiapa mengucapkan subhaanallah, maka Allah akan menulis dua puluh kebaikan baginya dan menggugurkan dua puluh dosa darinya, dan barangsiapa mengucapkan Allahu Akbar, maka Allah akan menulis seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan laa Ilaaha illallah, maka akan seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin dari relung hatinya maka Allah akan menulis tiga puluh kebaikan untuknya dan digugurkan tiga puluh dosa darinya.” (HR. Ahmad)

4. Salah satu dari tanaman di jannah

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:  لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِى فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّى السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda, “Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. At-Tirmidzi)

Perbedaan Al-Hamdu dengan Asy-Syukru

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah Al-Hamd (pujian) dan Asy-Syukru (bersyukur) apakah ada perbedaan di antara keduanya?, menjadi dua pendapat:

Pendapat Pertama:

Bahwa pujian dan syukur itu sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya, pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath Thabari dan yang lainnya.

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata: “Arti dari Alhamdulillah adalah bersyukur ikhlas kepada Allah –Jalla tsna’uhu-  tidak kepada semua yang disembah selain-Nya”, kemudian beliau –rahimahullah- berkata: “Dan tidak ada perbedaan di antara para ahli ilmu bahasa Arab tentang hukum sahnya ucapan seseorang: “Alhamdulillahi syukran”, telah menjadi jelas bagi mereka bahwa kedua ucapan tersebut benar adanya, bahwa pujian kepada Allah terkadang disampaikan dalam kondisi bersyukur, dan rasa syukur terkadang ditempatkan pada tempat pujian; karena kalau tidak demikian maka tidak akan boleh mengucapkan: “Alhamdulillahi syukran.”[2]

Pendapat Kedua:

Bahwa pujian dan syukur tidak sama artinya, ada perbedaan di antara keduanya, di antaranya adalah:

  1. Pujian itu khusus dengan lisan, berbeda dengan syukur yang dilakukan dengan lisan, hati dan tindakan.
  2. Bahwa pujian itu dilakukan karena mendapatkan dan tidak mendapatkan nikmat, berbeda dengan syukur dilakukan hanya karena mendapatkan nikmat.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,“Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa syukur itu lebih umum dari sisi macam dan sebabnya, dan lebih khusus dari sisi yang berkaitan dengannya. Sementara pujian itu lebih umum dari sisi yang berkaitan dengannya, dan lebih khusus dari sisi sebabnya.

Maksudnya adalah bahwa syukur itu ketenangan dan ketundukan dengan hati, pujian dan pengakuan dengan lisan, serta taat dan pelaksanaan dengan anggota badan.

Dan yang berkaitan dengannya adalah semua nikmat yang ada tanpa sifat personal, maka tidak diucapkan: “Kami bersyukur kepada Allah atas Maha hidup-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, ilmu-Nya, dan Dia-lah Yang Terpuji atas nikmat-nikmat tersebut sebagaimana Dia Yang Terpuji atas kebaikan dan keadilan-Nya.

Bersyukur itu atas kebaikan dan kenikmatan. Dan semua yang berkaitan dengan syukur maka berkaitan juga dengan pujian tidak untuk sebaliknya. Dan setiap yang terjadi karenanya pujian maka terjadi pada syukur tidak untuk sebaliknya; karena bersyukur itu dengan tindakan dan pujian itu dengan hati dan lisan.” [3]

Kapan dianjurkan mengucapkan Alhamdulillah?

1. Ketika setelah bersin


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : الحَمْدُ للهِ ، وَلْيَقُلْ لَهُ أخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ . فَإذَا قَالَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، فَليَقُلْ : يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, ‘alhamdulillah (artinya: segala puji bagi Allah)’. Dan hendaklah saudaranya atau rekannya mengucapkan untuknya, ‘yarhamukallah (artinya: Semoga Allah merahmatimu)’. Maka apabila ia telah mengucapkan semoga Allah merahmatimu, hendaklah yang bersin mengucapkan, ‘Yahdikumullah Wa Yushlih Baalakum (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian)’.” (HR. Bukhari)

2. Setelah makan dan minum

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، غَيْرَ مَكْفِىٍّ ، وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengangkat hidangannya (artinya: selesai makan), beliau berdo’a: Alhamdulillahi kastiron thoyyiban mubarokan fiih, ghoiro makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu rabbanaa (segala puji hanyalah milik Allah, yang Allah tidak butuh pada makanan dari makhluk-Nya, yang Allah tidak mungkin ditinggalkan, dan semua tidak lepas dari butuh pada Allah, wahai Rabb kami) (HR. Bukhari)

Dari Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Namun, jika mencukupkan dengan hamdalah saja, maka tetap diperbolehkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim)

3. Ketika selesai mengenakan pakaian

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memakan makanan kemudian membaca doa: ‘alhamdulillahil ladzii ath’amanii hadza ath tha’aama wa razaqaniihi min ghairi haulin minni wa laa quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini kepadaku sebagai rizki, tanpa daya dan kekuatan dariku).’ Maka akan diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan barangsiapa memakai baju lalu membaca doa: ‘alhamdulillahil ladzii kasaanii hadza ats tsauba wa razaqaniihi min ghairi haulin minni wa laa quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rizki, tanpa daya dan kekuatan dariku).’ Maka akan diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Abu Daud)

4. Ketika hendak tidur dan ketika bangun tidur

Berkenaan dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebelum tidur, Imam Muslim meriwayatkan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا وَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika hendak menuju ke tempat tidurnya membaca, “alhamdu lillahil ladzii ath’amanaa wa saqaanaa wakafaanaa wa ‘aawaanaa wakam mimman laa kaafiya lahu wa laa mu’ wiya (Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan kami, memberi minum kami, dan memberi kecukupan kepada kami serta memberi tempat tinggal kepada kami, berapa banyak orang yang tidak memiliki pemberi kecukupan serta pemberi tempat tinggal).” (HR. Muslim)

Adapun ketika hendak bangun tidur, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.”. (HR. Bukhari no. 6325)

5. Ketika khutbah Jum’at atau khutbah pernikahan.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan: “Innal hamda lillah nahmaduhu wa nasta’inuhu …. (Segala puji bagi Allah. Hanya kepadaNya, kami memuji dan meminta pertolongan. Barangsiapa Allah beri petunjuk maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa Allah sesatkan maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad hamba dan rasul-Nya).” (HR. Muslim)

6. Ketika tertimpa musibah

Salah satu hadits yang diriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dan disebutkan oleh Imam an-Nawawi, meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda

, إذا مات ولد العَبْدِ قالَ اللَّهُ تعالى لملائكته: قبضتم ولد عبدي؟ فيقولون: نعم، فيقول: قبضتم ثمرة فؤاده؟ فيقولون: نعم؟ فيقول: فماذا قالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعالى: ابْنُوا لعبدي بَيْتًا في الجَنَّةِ، وسموه بَيْتَ الحَمْدِ

“Ketika anak seorang hamba meninggal, Allah bertanya kepada malaikat-Nya: “Apakah kalian telah mengambil nyawa anak hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah bertanya lagi, “Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?” Mereka menjawab, “Ya.” Kemudian Allah bertanya, “Apa yang diucapkan hamba-Ku?” Para malaikat menjawab, “Dia memuji-Mu (mengucap alhamdulillah) dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).” Maka Allah berfirman, “Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga, dan namakanlah rumah itu Baitul Hamd (Rumah Pujian).” (HR. At-Tirmidzi)


7. Ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan

Dzikir ini merupakan bacaan yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika mendapati suatu hal yang menyenangkan. Sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Beliau berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ  ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ  ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﻣَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﻗَﺎﻝَ ‏ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻪِ ﺗَﺘِﻢُّ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ‏» . ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﻣَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﻗَﺎﻝَ ‏ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺣَﺎﻝٍ ‏

Artinya, “Kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat (Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya menjadi sempurna semua amal kebaikan). Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal (Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan).” (HR Ibnu Majah )

Semoga melalui senandung syukur “Alhamdulillah” yang selalu terucap dari lisan dan terpatri dalam hati, kita semakin dekat dengan Allah, Rabb seluruh alam. Semoga Dia menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur dalam setiap waktu. Aamiin.


[1] Tafsir As-Sa’di, 1/31-32

[2] Tafsir At-Thabari: 1/138

[3] Madarijus Salikin: 2/246