Boyolali, 1–2 Agustus 2026 — Masjid Ash-Shobah, Batan, Banyudono, Boyolali, dipenuhi ratusan jamaah dalam gelaran Safari Subuh Barokah (SSB) edisi Agustus 2026, Sabtu–Ahad (1–2/8/2026).

Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, SSB kali ini hadir melalui kolaborasi dengan AQSI (Ash-Shobah Qiyamullail dan Subuh Berbagi), program rutin Masjid Ash-Shobah yang digelar setiap tiga bulan sekali. Kolaborasi tersebut membuat rangkaian kegiatan berlangsung semakin semarak sekaligus menghadirkan ruang kebersamaan yang lebih luas bagi masyarakat.

Mengusung tema “Merajut Persatuan, Memupus Perpecahan”, kegiatan ini terasa relevan dengan momentum Agustus yang lekat dengan semangat persatuan dan kebersamaan.

Bukan sekadar slogan, tema tersebut dibedah melalui dua sesi kajian yang mengajak jamaah melihat persoalan persatuan dari sisi yang lebih mendasar: bagaimana menyikapi perbedaan dan bagaimana menjaga hati agar tidak menjadi sumber perpecahan.

Perbedaan Tak Terhindarkan, Persatuan Harus Diupayakan

Pada kajian malam, Ustadz Umaier Khaz, Lc., M.H. menjelaskan bahwa perbedaan dan perselisihan merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Hal itu tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan.

Namun, menurutnya, persatuan memiliki kedudukan yang berbeda. Ia merupakan sunnah syar’iyyah yang harus terus diupayakan oleh kaum muslimin.

Karena itu, menjaga persatuan di tengah perbedaan bukan sekadar persoalan sosial, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah yang memiliki keutamaan besar.

Ustadz Umaier juga mengingatkan pentingnya memahami wilayah perbedaan dalam persoalan syariat. Tidak semua perkara harus dipaksakan untuk memiliki satu pendapat. Ada persoalan yang memang berada dalam ranah ijtihadiyah dan memungkinkan lahirnya perbedaan pendapat di antara para ulama.

Pemahaman tersebut penting agar seorang muslim tidak mudah menjadikan persoalan yang memang memungkinkan adanya perbedaan sebagai alasan untuk saling berselisih.

Pesan serupa juga disampaikan dalam persoalan hubungan antarsesama. Ustadz Umaier mengajak jamaah menjaga kebersihan hati dan tidak mudah berprasangka buruk.

Ketika menemukan sesuatu yang janggal dari seorang saudara, seorang muslim dianjurkan untuk terlebih dahulu mencari kemungkinan udzur dan memberikan prasangka baik. Tidak tergesa-gesa menyimpulkan, apalagi menjatuhkan vonis, sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Baca Juga:  Safari Dakwah & Sosial Al Furqon Banyudono II: Ustadz Hasan Ajak Jamaah untuk Memakmurkan Masjid

Dua Hal yang Bisa Menjadi Bahan Bakar Perpecahan

Pesan tersebut kemudian diperkuat melalui tausiyah selepas Subuh yang disampaikan Ustadz Hasan Abu Ayyub.

Beliau menguraikan setidaknya dua hal yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi pemicu perpecahan di tengah umat: kecintaan berlebihan terhadap dunia dan sikap tidak bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Menurutnya, kecintaan kepada dunia dapat mendorong seseorang menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan apa yang diinginkan. Bahkan, seseorang bisa tega menyakiti orang lain yang paling dekat dengannya.

Ia menggambarkan kerakusan manusia terhadap dunia seperti serigala yang sedang kelaparan. Ketika keinginan terhadap dunia tidak dikendalikan, kerakusan itu dapat membawa seseorang melampaui batas.

Sementara dalam menyikapi perbedaan pendapat, persoalannya bukan semata-mata terletak pada adanya perbedaan, melainkan pada ketidakmampuan menerima bahwa perbedaan memang merupakan bagian dari kehidupan ilmiah umat Islam.

Karena itu, jamaah didorong untuk terus memperdalam ilmu melalui majelis-majelis kajian.

Semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin luas pula dadanya dalam menghadapi perbedaan.

Dengan keluasan ilmu, seorang muslim tidak mudah menyalahkan, apalagi tergesa-gesa memvonis sesat pihak lain hanya karena berbeda dalam perkara yang memang diperselisihkan oleh para ulama.

Pada titik inilah ilmu tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk kelapangan hati. Dan ketika kelapangan itu tumbuh, ruang bagi perpecahan pun semakin menyempit.

Qiyamullail, Subuh Berjamaah, hingga Berbagi Sayuran

Selain kajian, rangkaian SSB kali ini juga diisi dengan qiyamullail berjamaah. Sejak sekitar pukul 02.30 WIB, jamaah mulai berdatangan dan mengikuti rangkaian qiyamullail hingga mendekati waktu Subuh.

Suasana kebersamaan kemudian berlanjut dalam shalat Subuh berjamaah dan tausiyah.

Setelah rangkaian kegiatan selesai, jamaah menikmati sarapan bersama sebelum mendapatkan oleh-oleh berupa sayuran gratis yang telah disiapkan panitia AQSI.

Hal sederhana tersebut menjadi penutup yang menarik dari rangkaian kegiatan. Peserta tidak hanya pulang membawa catatan kajian, tetapi juga membawa buah tangan dari sebuah kegiatan yang sejak awal dibangun dengan semangat berbagi dan mempererat kebersamaan.

Baca Juga:  Yayasan Al-Furqon Sambi 2 Gelar Safari Dakwah Ramadhan Bersama Warga Demangan

Kolaborasi SSB dan AQSI dalam edisi Agustus ini pada akhirnya menunjukkan bahwa persatuan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia bisa tumbuh dari masjid, dari majelis ilmu, dari shalat yang dilakukan bersama, dari hati yang belajar berlapang terhadap perbedaan, hingga dari sebungkus sayuran yang dibawa pulang untuk keluarga.

Dan mungkin, di situlah makna tema “Merajut Persatuan, Memupus Perpecahan” menemukan bentuknya yang paling sederhana: bertemu, belajar, beribadah, lalu pulang dengan hati yang lebih lapang.