KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Sebagai wujud syukur kita kepada Allah ﷻ yang telah memberikan kesempatan istimewa untuk bertemu dengan bulan Ramadhan beberapa waktu yang lalu, serta memberikan kita kekuatan untuk melaksanakan berbagai amal ibadah di dalamnya, maka menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk melanjutkan rangkaian ketaatan kepada-Nya di bulan-bulan berikutnya.

Di antara amalan yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim, khususnya di bulan Syawal ini, adalah puasa sunnah selama enam hari. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim no. 1164)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah di dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan,

فَمِنْ جُمْلَةِ شُكْرِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ عَلَى تَوْفِيقِهِ لِصِيَامِ رَمَضَانَ وَإِعَانَتِهِ عَلَيْهِ وَمَغْفِرَةِ ذُنُوبِهِ أَنْ يَصُومَ لَهُ شُكْرًا عَقِبَ ذٰلِكَ

“Maka termasuk bentuk syukur seorang hamba kepada Rabb-nya atas taufik dan pertolongan-Nya dalam menjalankan puasa Ramadhan, dan atas diampuninya dosa-dosa, adalah ia berpuasa (lagi) sebagai bentuk syukur setelah itu.”[1]

Bahkan beliau menyebutkan bahwa dahulu ada di antara para salaf, yang apabila diberi taufik untuk melaksanakan qiyamullail, maka pada pagi harinya mereka berpuasa sebagai bentuk syukur atas nikmat dapat bangun di malam hari dan melaksanakan qiyamullail.[2]

Inilah hakikat syukur yang sebenarnya. Setiap nikmat yang Allah berikan—baik dalam urusan agama maupun kehidupan dunia—semuanya menuntut untuk disyukuri. Dan ketika kita mampu bersyukur, ternyata itu pun bukan semata karena usaha kita. Semua Itu adalah taufik dari Allah, dan taufik tersebut merupakan nikmat baru yang juga harus disyukuri.

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Melatih Anak Berpuasa Sejak Dini

Setiap kali kita bersyukur, itu pun karena taufik dari-Nya, yang kembali menjadi nikmat yang menuntut syukur. Begitu terus, berulang tanpa henti. Maka pada akhirnya, kita akan sadar bahwa kita tidak akan pernah mampu menunaikan syukur atas seluruh nikmat Allah.[3]

Di situlah letak hakikat syukur yang sesungguhnya: bukan merasa sudah banyak bersyukur, tapi justru menyadari betapa kita tidak akan pernah mampu bersyukur dengan sempurna.

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah ﷺ mencontohkan hakikat syukur. Dikisahkan bahwa beliau ﷺ melaksanakan shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Ketika beliau ditanya, “Apakah Engkau masih melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, beliau menjawab,

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”. (HR. Al-Bukhari no. 4836 dan Muslim no. 2819).

Jangan sampai kita termasuk hamba yang tidak mensyukuri nikmat Ramadhan, dengan kembali kepada kemaksiatan yang sebelumnya telah kita tinggalkan selama Ramadhan, yang menyebabkan hilangnya pahala Ramadhan.

Dari Ka’ab, beliau berkata:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَهُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ عَصَى رَبَّهُ فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُودٌ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dalam keadaan ia bertekad bahwa setelah Ramadhan ia akan bermaksiat kepada Rabb-nya, maka puasanya tertolak.”[4]

Jamaah sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Ramadhan boleh berlalu, tetapi semangat ibadah tidak boleh lesu. Justru setelah Ramadhan, itulah saat ujian sebenarnya, apakah kita tetap menjaga ketaatan atau kembali lalai seperti sebelumnya. Maka, jagalah amal yang telah kita biasakan, dan lanjutkan dengan amal-amal kebaikan. Di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal jangan sampai ditinggalkan.

Semoga kita tidak termasuk orang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun lalai setelahnya. Mintalah kepada Allah agar kita diberi kekuatan untuk tetap istiqamah dalam ketaatan.

وَٱلۡعَصۡرِ  ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ  ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ  ٣

Baca Juga:  Khutbah Idul Adha 1446 H: Tiga Pilar Pengorbanan - Taat, Ikhlas, dan Sabar ala Ibrahim dan Isma'il

KHUTBAH KEDUA

 اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بَأَمْرٍ عَظِيْمٍ, أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ

فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِينَ، وَوَفِّقْنَا لِلاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِكَ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ أَقِيمُواْ الصَّلَاةَ


[1] (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathā’if al-Ma‘ārif, tahqiq Yasin Muhammad As-Sawas, Damaskus–Beirut: Dar Ibn Katsir, cet. ke-5, 1999, hlm. 395)

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathā’if al-Ma‘ārif, tahqiq Yasin Muhammad As-Sawas, Damaskus–Beirut: Dar Ibn Katsir, cet. ke-5, 1999, hlm. 396)