Ahad pagi, 3 Agustus 2025 — Jamaah shalat subuh membludak memenuhi Masjid Walisongo, Salakan, Teras, Boyolali dalam lanjutan rangkaian Safari Subuh Barokah (SSB) yang diselenggarakan oleh Yayasan Al Furqon Lentera Umat. Jumlah jamaah yang hadir begitu banyak hingga sebagian harus melaksanakan shalat di halaman masjid menggunakan tikar karena ruang utama dan teras masjid tak lagi mencukupi.

Usai pelaksanaan shalat subuh berjamaah, acara dilanjutkan dengan sesi kajian ba’da subuh yang disampaikan oleh Ustadz Hasan Abu Ayyub, pembina Yayasan Al Furqon Lentera Umat. Dalam kajiannya, beliau mengingatkan bahaya dari penyakit hati yang sering tidak disadari, yaitu “hubbud dunya” — cinta dunia yang berlebihan.

Beliau menyampaikan, hubbud dunya merupakan sifat yang tidak layak dipelihara oleh seorang mukmin, karena akan merusak orientasi hidup dan melemahkan ikatan dengan akhirat. Beliau menyampaikan tiga dampak buruk dari sifat ini:

  1. Mengesampingkan urusan akhirat demi urusan dunia
    Orang yang terlalu mencintai dunia akan mendahulukan urusan dunia dan mengabaikan akhirat. Padahal, Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menunjukkan bahwa fokus utama seorang mukmin adalah mencari akhirat, sementara dunia hanya sebagai bagian pelengkap yang tidak boleh dilupakan, namun tidak dijadikan prioritas utama.

  1. Tidak peduli halal atau haram
    Seseorang yang terjangkiti hubbud dunya akan menghalalkan segala cara demi memperoleh kekayaan. Ia tidak peduli apakah hartanya didapat dari jalan yang halal atau haram. Dalam hal ini, Ustadz Hasan menukil sabda Nabi ﷺ:

“Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).”
(HR. At-Thabrani)

Beliau mengingatkan dengan nada reflektif: “Apakah tega seorang ayah memberi makan keluarganya dengan harta yang haram, lalu menyuapi anak-anaknya menuju api neraka?”

  1. Bersikap kikir dan zalim terhadap diri sendiri maupun keluarga
    Karena terobsesi menumpuk harta, sebagian orang justru menelantarkan hak tubuhnya, menahan pengeluaran untuk kebutuhan dasar, hidup dalam kondisi tidak layak, dan bahkan abai terhadap kebutuhan istri serta anak-anaknya. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara mengelola harta dan memenuhi hak-hak yang ada. Beliau menukil hadits Nabi ﷺ:

“Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada masing-masing haknya.”
(HR. Al-Bukhari, no. 1968)

Hadits ini menegaskan bahwa seorang Muslim harus menunaikan tanggung jawab secara seimbang kepada Allah, diri sendiri, dan keluarga.

Img 20250803 wa0022
Suasana kajian bakda shubuh di masjid Walisongo, Teras.

Kajian berlangsung dalam suasana hangat dan penuh perhatian. Jamaah tampak serius menyimak dan merenungkan pesan-pesan yang disampaikan.

Baca Juga:  Safari Subuh Barokah di Masjid Baitul Muttaqien, Boyolali: Takmir Berharap Al-Furqon Berkenan Mengulang Kembali Program Ini

Sebagai penutup rangkaian kegiatan Safari Subuh Barokah, seluruh peserta menikmati sarapan bubur bersama, menambah keakraban dan memperkuat ukhuwah di antara jamaah dari berbagai daerah yang hadir.