مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Artinya: Yang menguasai di Hari Pembalasan.

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah memahami makna secara mendalam dari ayat ketiga Surah Al-Fatihah. Kini, mari kita lanjutkan perjalanan tadabbur ini dengan memasuki ayat keempat, yang berbicara tentang kepemilikan Allah atas Hari Pembalasan.

Ayat yang keempat ini mengandung hakikat besar yang mengguncang hati seorang mukmin. Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, sedangkan di akhirat kelak, setiap amal manusia akan dipertanggungjawabkan tanpa terkecuali. Pada hari itu, semua topeng akan dilepas, semua rahasia dibongkar, dan setiap langkah hidup akan ditimbang dengan seadil-adilnya.

Yang menakjubkan, Al-Fatihah mengajarkan kita mengulang kalimat ini setidaknya 17 kali dalam sehari semalam, melalui shalat lima waktu. Artinya, Allah ingin kita selalu menyadari bahwa ada kehidupan setelah kematian, ada keadilan setelah segala ketidakadilan dunia, dan ada perhitungan yang tak bisa dielakkan. Ayat ini sekaligus meluruskan pandangan manusia yang sering kali terjebak pada kesombongan. Sebab sehebat apa pun kuasa dan harta yang kita miliki di dunia, pada akhirnya semuanya sirna. Di Hari Pembalasan, tidak ada satu pun yang bisa menolong kecuali rahmat Allah semata.

Merenungi pesan besar dari ayat ini seharusnya membangkitkan kesadaran kita untuk hidup lebih bertanggung jawab. Setiap perkataan dan perbuatan bukan hanya berdampak di dunia, tetapi juga akan tercatat untuk akhirat. Kesadaran ini membuat kita berhati-hati dalam bertindak, tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun, dan tidak menyepelekan dosa yang tampak ringan.

Lebih dari itu, Al-Fatihah ayat 4 juga menumbuhkan harapan. Sebab Allah yang menjadi Pemilik Hari Pembalasan bukanlah hakim yang kejam, melainkan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selama kita terus berusaha memperbaiki diri, memohon ampunan, dan kembali kepada-Nya, pintu rahmat Allah selalu terbuka lebar. Dengan begitu, hidup di dunia tidak hanya menjadi perjalanan singkat yang sia-sia, tetapi sebuah persiapan menuju perjumpaan yang mulia bersama Sang Pencipta.

Tafsir Ayat

Makna kata:

Al-Mālik dengan bacaan panjang pada huruf mim adalah Sang Pemilik Kerajaan yang bebas mengatur sesuai dengan kehendak-Nya.

Al-Malik adalah Sang Penguasa yang dapat memerintah dan melarang, yang Maha memberi dan menolak tanpa ada yang mampu turut campur atau melawan-Nya.

Yaumiddīn adalah hari pembalasan, yaitu hari kiamat ketika Allah membalas seluruh perbuatan masing-masing hamba.[1]

Makna Ayat:

Sebagian ulama qirā’ah membacanya مَلِكِ  (Maliki), sementara sebagian yang lain membacanya مَالِكِ (Māliki). Kedua bacaan tersebut sahih dan mutawātir di kalangan para qurrā’ As-Sab‘ah. Masing-masing memiliki makna yang kuat dan saling melengkapi; karena itu, kedua bacaan tersebut sama-sama benar dan baik dari segi makna maupun riwayatnya.

Lafaz malik diambil dari kata al-milku, seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْها وَإِلَيْنا يُرْجَعُونَ

Sesungguhnya Kami memiliki bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan. (QS. Maryam: 40)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Pemilik manusia. (QS. An-Nas: 1-2)

Sedangkan kalau maliki diambil dari kata al-mulku, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS. Al-Mu’min: 16)

قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ

Benarlah perkataan-Nya. dan di tangan kekuasaan-Nyalah segala kekuasaan. (QS. Al-An’am: 73)

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمنِ وَكانَ يَوْماً عَلَى الْكافِرِينَ عَسِيراً

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu) suatu hari yang penuh dengan kesukaran bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Furqan: 26)

Penyebutan hari pembalasan secara khusus dalam ayat ini bukan berarti Allah tidak berkuasa atas hal lainnya. Sebelumnya telah disebutkan firman-Nya, “Rabbul ‘Ālamīn” (Rabb semesta alam), yang menegaskan bahwa kekuasaan Allah meliputi seluruh alam, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, pada ayat ini kekuasaan itu disandarkan secara khusus kepada Yaumiddīn (hari pembalasan), karena pada hari tersebut tidak ada seorang pun yang dapat menyeru atau berbicara kecuali dengan izin Allah semata, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمنُ وَقالَ صَواباً

Pada hari ketika roh dan malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata. kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (QS. An-Naba’: 38)

وَخَشَعَتِ الْأَصْواتُ لِلرَّحْمنِ فَلا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْساً

Dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. (QS. Thaha: 108)

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (QS. Hud: 105)

Ad-Dahhāk meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās bahwa makna Māliki Yaumiddīn adalah:
“Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan bersama-Nya pada hari pembalasan, sebagaimana kekuasaan yang dimiliki para raja ketika mereka hidup di dunia.”

Ibnu ‘Abbās menjelaskan bahwa Yaumiddīn adalah hari ketika seluruh makhluk menjalani hisab, yaitu hari kiamat, saat Allah membalas setiap hamba sesuai dengan amal perbuatannya. Barang siapa amalnya baik, maka balasannya pun baik; dan barang siapa amalnya buruk, maka balasannya buruk, kecuali bagi mereka yang memperoleh ampunan dari Allah. Penafsiran serupa juga disampaikan oleh para sahabat, tābi‘īn, dan ulama salaf lainnya dan hal ini telah menjadi penjelasan yang jelas dan disepakati.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian ulama bahwa tafsir dari firman-Nya Māliki Yaumiddīn adalah “Allah Maha Kuasa untuk mengadakannya (hari pembalasan tersebut)”. Namun, Ibnu Jarir sendiri menilai pendapat ini lemah (da‘īf). Meskipun demikian, secara lahiriah tidak terdapat pertentangan antara pendapat ini dengan pendapat-pendapat sebelumnya. Setiap ulama yang berpendapat demikian tetap mengakui kebenaran pandangan yang lain dan tidak menolaknya, hanya saja konteks ayat lebih sesuai bila diartikan dengan makna pertama di atas tadi dibandingkan dengan pendapat yang sekarang ini, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا}

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu) suatu hari yang penuh dengan kesukaran bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Furqan: 26)

Sedangkan pendapat kedua pengertiannya mirip dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

{وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ}

Pada hari Dia mengatakan, “Jadilah!, lalu terjadilah. (QS. Al-An’am: 73)

Pada hakikatnya raja yang sesungguhnya adalah Allah, seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera. (QS. Al-Hasyr: 23)

Di dalam hadis Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

أَخْنَعُ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى بِمَلِكِ الْأَمْلَاكِ وَلَا مَالِكَ إِلَّا اللَّهُ 

Nama yang paling rendah di sisi Allah ialah seorang yang menamakan dirinya dengan panggilan Malikid Amlak. sedangkan tiada raja selain Allah.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

يَقْبِضُ اللَّهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ ملوك الْأَرْضِ؟ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman, “Aku-lah Raja. Sekarang mana raja-raja bumi, mana orang-orang yang diktator, mana orang-orang yang angkuh?”

Di dalam Al-Qur’an disebutkan melalui firman-Nya:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS. Al-Mu’min: 16)

Adapun mengenai nama lainnya di dunia ini dengan memakai sebutan malik, yang dimaksud adalah “nama majaz”. bukan nama dalam arti yang sesungguhnya, sebagaimana yang dimaksud di dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طالُوتَ مَلِكاً

Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi raja kalian. (QS. Al-Baqarah: 247)

وَكانَ وَراءَهُمْ مَلِكٌ

karena di hadapan mereka ada seorang raja. (QS. Al-Kahfi: 79)

إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِياءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكاً

ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dan dijadikan-Nya kalian sebagai raja-raja (orang-orang yang merdeka). (QS. Al-Maidah: 20)

Di dalam sebuah hadis Sahihain disebutkan:

مِثْلُ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ

Seperti raja-raja yang berada di atas dipan-dipannya (singgasana).

Ad-Din artinya “pembalasan dan hisab”, sebagaimana yang disebut di dalam firman lainnya, yaitu:

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ

Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya. (QS. An-Nur: 25)

أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

Apakah sesungguhnya  kita  benar-benar  (akan  dibangkitkan) untuk diberi pembalasan? (QS. Ash-Shaffat: 53)

Makna yang dimaksud ialah mendapat balasan yang setimpal dan dihisab. Di dalam sebuah hadis disebutkan:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Orang yang pandai ialah orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya sendiri dan beramal untuk bekal sesudah mati.

Makna yang dimaksud ialah “hisablah dirimu sendiri“, sebagaimana yang dikatakan Khalifah Umar Radhiyallahu ‘anhu yaitu: “Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah (berbekallah) untuk menghadapi peradilan yang paling besar di hadapan Tuhan yang tidak samar bagi-Nya semua amal perbuatan kalian,” seperti yang dinyatakan di dalam Firman-Nya:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفى مِنْكُمْ خافِيَةٌ

Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian). Tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi-Nya). (QS. Al-Haqqah: 18)[2]

Faedah:

Di antara faedah ayat ini:

1. Penetapan sifat Maha Raja Allah dan kerajaan-kerajaan-Nya di hari pembalasan karena pada hari itu semua kerajaan dan semua raja akan sirna.

Jika ada orang yang bertanya: Bukankah Allah adalah Raja di hari kebangkitan dan Raja dunia?

Jawabannya: Tentu! Tetapi kekuasaan, kerajaan dan kekuatan-Nya akan nampak pada hari itu, karena saat itu Allah akan menyeru:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? (QS. Al-Mu’min:16)

Maka tidak akan ada seorang pun yang akan menjawab. Lalu Allah akan mengatakan:

لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

Hanya milik Allah yang Maha Esa lagi Maha Kuasa (QS. Al-Mu’min:16)

Di dunia muncul raja-raja, bahkan bermunculan raja-raja yang diyakini oleh rakyatnya bahwa tidak ada raja kecuali mereka. Misalnya Orang-orang komunis, mereka tidak meyakini adanya penguasa pemilik langit dan bumi, mereka meyakini bahwa kehidupan manusia hanyalah kelahiran dari rahim para ibu kemudian akan ditelan bumi, mereka meyakini bahwa tuhan mereka adalah penguasa mereka.

2. Penetapan adanya kebangkitan dan pembalasan sebagaimana firman-Nya Ta’ala:

 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai hari pembalasan.

3. Anjuran bagi manusia agar melakukan amal kebaikan untuk menyiapkan diri di hari pembalasan bagi yang beramal.[3]

Surah Al-Fatihah ayat 4, “Mālik Yaumiddīn”, menghadirkan pesan agung yang meneguhkan keimanan setiap Muslim. Ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah satu-satunya Pemilik Hari Pembalasan, hari di mana seluruh amal perbuatan manusia akan diperhitungkan secara adil. Dengan menyelami makna ayat ini, seorang Muslim diingatkan bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan menuju hari pertemuan dengan Allah. Maka, setiap amal kecil sekalipun tidak boleh diremehkan, sebab semuanya akan mendapatkan balasan yang setimpal.


[1] Aysār At-Tafāsir li Kalāmil ‘Aliyyil Kabir, I/13

[2] Tafsir Ibnu Katsir, I/270-273

[3] Tafsir Juz ‘Amma Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 17