Tidak dapat dipungkiri, datangnya musibah kerap membuat seseorang diliputi kesedihan, bahkan sampai pada titik frustrasi. Menerima kenyataan yang menimpa diri terasa begitu sulit, baik itu musibah dalam urusan harta, penyakit yang datang tiba-tiba, wafatnya orang tercinta, maupun bentuk-bentuk musibah lainnya.
Namun, di balik semua itu, seorang mukmin diajarkan untuk melihat musibah dari sudut pandang yang lebih dalam: bahwa semuanya terjadi bukan tanpa sebab, melainkan atas izin dan kehendak Allah.
Musibah Datang atas Kehendak Allah
Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa setiap musibah tidak terjadi kecuali dengan sepengetahuan dan ketetapan Allah.Di dalam surat At-Taghabun ayat ke-11, Allah Ta’ala berfirman:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١١
Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dalam tafsirnya, Syaikh As-Sa’di menjelaskan,
هذا عام لجميع المصائب، في النفس، والمال، والولد، والأحباب، ونحوهم، فجميع ما أصاب العباد، فبقضاء الله وقدره، قد سبق بذلك علم الله [تعالى]، وجرى به قلمه، ونفذت به مشيئته، واقتضته حكمته
“Musibah yang dimaksud pada ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh bentuk musibah: pada diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan selainnya. Segala yang menimpa seorang hamba merupakan bagian dari ketetapan dan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu Allah telah mendahului semuanya; pena Allah telah mencatatnya, kehendak-Nya telah menetapkannya, dan hikmah-Nya menunutnya terjadi.”
Oleh karena setiap musibah merupakan bagian dari skenario yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya, maka yang terpenting bukanlah berfokus pada musibah itu sendiri: dengan meratapinya dalam kesedihan mendalam, terjebak dalam keputusasaan yang berkepanjangan, atau bersikap negatif lainnya yang justru tidak menghadirkan solusi, bahkan hanya menambah beban secara terus-menerus. Termasuk bersuuzhon kepada Allah, wal ‘iyaddzu billah.
Sebaliknya, kesadaran bahwa musibah datang atas kehendak Allah seharusnya mendorong seseorang untuk merenung: mampukah ia menjalankan tugas yang Allah tetapkan saat ia berada dalam kondisi tertimpa musibah? Inilah yang dijelaskan lebih lanjut oleh Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya terhadap ayat ke-11 surat At-Taghabun. Beliau menjelaskan,
فإذا آمن أنها من عند الله، فرضي بذلك، وسلم لأمره، هدى الله قلبه، فاطمأن ولم ينزعج عند المصائب، كما يجري لمن لم يهد الله قلبه، بل يرزقه الثبات عند ورودها والقيام بموجب الصبر، فيحصل له بذلك ثواب عاجل، مع ما يدخر الله له يوم الجزاء من الثواب كما قال تعالى: ﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
“Apabila seorang hamba meyakini bahwa ia (musibah) itu berasal dari Allah, kemudian ia ridha dan tunduk pada ketetapannya, maka Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Ia akan menjadi tenang dan tidak gelisah saat tertimpa musibah, tidak sebagaimana orang-orang yang hatinya tidak diberi hidayah oleh Allah. Bahkan, Allah akan menganugerahkan kepadanya keteguhan hati ketika musibah datang, serta kemampuan untuk bersabar, sehingga ia pun mendapatkan pahala langsung di dunia, di samping pahala besar yang telah Allah siapkan baginya di hari pembalasan.
Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠
Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)”
Akibat Tidak Beriman Kepada Allah Ketika Musibah Datang
Syaikh As-Sa’di mengatakan,
من لم يؤمن بالله عند ورود المصائب، بأن لم يلحظ قضاء الله وقدره، بل وقف مع مجرد الأسباب، أنه يخذل، ويكله الله إلى نفسه، وإذا وكل العبد إلى نفسه، فالنفس ليس عندها إلا الجزع والهلع الذي هو عقوبة عاجلة على العبد، قبل عقوبة الآخرة، على ما فرط في واجب الصبر. هذا ما يتعلق بقوله: ﴿وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ﴾
“Barangsiapa tidak beriman kepada Allah ketika musibah datang, yaitu dengan tidak memandang itu terjadi karena takdir dan ketetapan Allah, serta hanya melihatnya sebatas rangkaian sebab-sebab lahiriyah saja, maka Allah akan meninggalkannya dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri.
Dan apabila seorang hamba diserahkan kepada dirinya sendiri, maka dirinya itu tidak memiliki apa-apa selain kegelisahan dan keluh kesah, yang semuanya adalah bentuk hukuman duniawi yang disegerakan, sebelum datangnya hukuman akhirat, akibat kelalaiannya dalam menjalankan kewajiban untuk bersabar.
Inilah makna firman Allah: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11)
Jaga Imanmu – Niscaya Allah Teguhkan Hatimu
Ketika menafsirkan ayat ke-11 surat At-Taghabun, Syaikh As-Sa’di mengutip potongan ayat ke-27 surat Ibrahim,
يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ. . . . ٢٧
Artinya: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat”. (QS. Ibrahim: 27)
Kemudian beliau mengungkapkan,
فأهل الإيمان أهدى الناس قلوبًا، وأثبتهم عند المزعجات والمقلقات، وذلك لما معهم من الإيمان.
“Maka, orang-orang beriman adalah mereka yang paling lurus hatinya, dan paling teguh saat menghadapi berbagai guncangan dan kekhawatiran, karena mereka memiliki bekal keimanan yang kokoh.” (Tafsir As-Sa’di)
Akhirnya, semoga Allah Ta‘ala senantiasa menjaga iman dalam hati kita, agar dengannya kita tetap teguh menghadapi berbagai ujian hidup di dunia ini, dan kelak meraih sebaik-baik balasan di akhirat. Amiin ya Rabb.










