KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jum’ah rahimakumullah
“Doa adalah senjata orang yang beriman”, begitulah sabda nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu ta’ala.
kita semua tahu bahwa berdoa bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Namun, yang sering tidak kita sadari, doa itu memiliki waktu-waktu khusus. Waktu-waktu yang jika seorang hamba berdoa di saat itu, peluang doanya untuk dikabulkan jauh lebih besar.
Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu ta‘ala menjelaskan dalam kitab Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’, bahwa doa memiliki adab-adab yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah berdoa pada waktu-waktu mustajab, yang disebut dengan auqatul ijabah.
Apabila seorang hamba berdoa dengan menjaga adab-adab tersebut dan bertepatan dengan waktu mustajab, maka sangat kecil kemungkinan doanya tertolak, bahkan besar harapannya untuk dikabulkan oleh Allah ﷻ.
Kapan saja waktu-waktu tersebut?
Mengutip penjelasan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, masih dalam kitab Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’, setidaknya ada enam waktu mustajab yang beliau sebutkan:
Pertama, sepertiga malam terakhir
Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Di malam hari terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah, berkaitan dengan dunia dan akhiratnya, bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no.757)
Kedua, ketika adzan dikumandangkan
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah ﷺ bersabda,
قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ
“Ucapkanlah sebagaimana (lafal) yang dibaca oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang azan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud)
Ketiga, di antara adzan dan iqamah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا
“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)
Keempat, setelah selesai melaksanakan shalat-shalat wajib
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Doa manakah yang paling didengar (oleh Allah)?”, maka beliau bersabda,
جَوْفُ اللَّيْلِ الآخِرُ، ودُبُرُ الصَّلواتِ المكْتُوباتِ
“(Doa yang dipanjatkan pada) bagian akhir malam, dan setelah selesai melaksanakan shalat-shalat wajib.” (HR. At-Tirmidzi)
Kelima, sejak khatib duduk di atas mimbar hingga shalat Jumat selesai dilaksanakan
عَنْ أَبِي مُوْسَى اَلْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ لِيْ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ شَأْنِ سَاعَةِ الْإِجَابَةِ؟ قَالَ: قُلْتُ نَعَمْ, سَمِعُتُهُ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ
“Dari Abi Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Abdullah bin Umar berkata kepadaku: Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah ﷺ tentang waktu ijabah? Aku menjawab: Ya. Aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat.” (HR Muslim dan Abi Dawud).
Maksud berdoa pada waktu khatib berada di atas mimbar adalah berdoa di dalam hati, tanpa dilafalkan dengan lisan. Bisa juga dilantunkan ketika khatib belum memulai berkhutbah, atau jeda antara dua khutbah, antara khutbah dan shalat, atau setelah tasyahud sebelum salam, sebagaimana pendapat Al-Bulqini dan Al-Halimi yang dinukil oleh Syamsuddin Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj.
Keenam, bakda Ashar pada hari Jumat
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,
يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 jam. Jika seorang muslim memohon kepada Allah ﷻ sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ﷻ akan mengabulkannya. Maka carilah waktu tersebut pada waktu-waktu akhir setelah Ashar.” (HR. Abu Daud)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Enam waktu ijabah doa yang kita sebutkan tadi bukanlah seluruhnya. Itu hanyalah sebagian contoh dari waktu-waktu yang Allah muliakan untuk berdoa. Masih banyak dalil lain yang menjelaskan waktu-waktu ijabah doa, yang semuanya menunjukkan satu pesan penting: bahwa Allah Maha Dekat dan Maha Mendengar doa hamba-Nya.
Maka jangan kita remehkan doa, jangan pula kita tunda-tunda. Manfaatkan waktu-waktu mulia itu untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat, dengan hati yang hadir dan penuh harap. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang gemar berdoa dan mengabulkan doa-doa kita. Amiin
وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بَأَمْرٍ عَظِيْمٍ, أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ
فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا، وَلَا تَرُدَّنَا خَائِبِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ أَوْقَاتَ فَضْلِكَ، وَيَغْتَنِمُونَ سَاعَاتِ إِجَابَتِكَ، وَيُلِحُّونَ عَلَيْكَ فِي الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ دُعَاءَنَا أَلْسِنَةً بِغَيْرِ قُلُوبٍ، وَلَا أَعْمَالًا بِغَيْرِ إِخْلَاصٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
أَقِيمُواْ الصَّلَاةَ










