Banyudono, 20 Juli 2025 – Dalam rangkaian kegiatan Safari Dakwah & Sosial yang diselenggarakan oleh Yayasan Al Furqon Lentera Umat Cabang Banyudono II, Ustadz Hasan Abu Ayyub hadir memberikan tausiyah kepada jamaah Masjid Al-Huda, Sidorejo, Banyudono. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya memakmurkan masjid sebagai upaya nyata untuk memperbaiki kondisi umat Islam.
Tausiyah dibuka dengan penekanan pada kemuliaan masjid dalam pandangan syariat. Ustadz Hasan menyitir sabda Nabi Muhammad ﷺ:
أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا
“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya.” (HR. Muslim)
Beliau juga membacakan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 18 yang menegaskan bahwa yang pantas memakmurkan masjid adalah orang-orang beriman yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan hanya takut kepada Allah. Ayat ini menjadi dasar bahwa memakmurkan masjid bukan hanya tugas pengurus, melainkan kewajiban kolektif umat yang beriman.
Ustadz Hasan kemudian menyampaikan empat bentuk konkret dalam memakmurkan masjid:
Pertama, Membangun dan Menyokong Pembiayaan Masjid
Beliau mengingatkan keutamaan membangun masjid, dengan menyampaikan hadits Nabi:
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah)
Maka, beliau berpesan agar dana infaq yang dikumpulkan dari jamaah sebaiknya segera dimanfaatkan untuk kegiatan masjid atau pembangunannya. Penundaan tanpa kejelasan justru bisa mengurangi kepercayaan umat. Tidak selayaknya infaq masjid hanya menjadi bahan perlombaan banyaknya saldo infaq yang sangat minim pemanfaatannya. Karena itu, beliau memotivasi para jamaah untuk terus berinfaq sesuai kemampuan, sebagai bentuk cinta kepada rumah Allah.
Kedua, Meramaikan Masjid dengan Shalat Berjamaah
Beliau juga mengajak jamaah untuk menjadikan masjid sebagai pusat ibadah harian, dimulai dari konsistensi menghadiri shalat berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (Muttafaqun ‘alaih)
Jamaah yang rumahnya jauh dari masjid berpeluang besar mendapatkan pahala dengan keutamaan jarak yang mereka tempuh. Sementara yang dekat hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi yang terdepan dalam ibadah.
Ustadz Hasan juga menekankan pentingnya menjaga masjid dari simbol atau identitas golongan tertentu. Masjid harus menjadi milik seluruh umat, bukan dikuasai oleh satu kelompok saja.
Ketiga, Menghidupkan Kajian Ilmu di Masjid
Masjid yang aktif dengan kajian ilmu akan menciptakan jamaah yang cerdas, terbuka, dan rukun. Menurut beliau, kajian rutin membuat masyarakat lebih paham agama, lebih toleran dalam menyikapi perbedaan (khilafiyah), dan menjadikan ukhuwah Islamiyah semakin kokoh.
Keempat, Menjadikan Masjid sebagai Pusat Kemaslahatan Umat
Beliau menyoroti fenomena masjid yang tertutup aksesnya di luar waktu shalat—gerbang dan kamar mandinya terkunci, membuat masyarakat enggan atau sulit untuk memanfaatkan fasilitasnya.
“Bahkan jika seseorang hanya masuk masjid untuk buang air, maka kamar mandi yang digunakan itu bisa menjadi sebab pahala bagi orang yang membangunnya,” ujar beliau.
Masjid semestinya menjadi tempat bernaung bagi umat, bukan hanya ruang shalat semata. Ia harus hadir sebagai pelayan kebutuhan sosial, spiritual, dan edukatif bagi masyarakat sekitarnya.
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Hasan menyampaikan harapan besar: dengan memakmurkan masjid, semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Karena masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga jantung kehidupan umat Islam.
Dokumentasi Safari Dakwah & Sosial Al Furqon cab. Banyudono II









