KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jum’ah rahimakumullah

Di zaman serba digital seperti sekarang, banyak urusan rumah tangga yang seharusnya diselesaikan berdua justru berakhir di media sosial. Bukan lagi dibicarakan di ruang keluarga atau di meja makan, tapi di status WhatsApp, story Instagram, atau unggahan bernada sindiran. Kadang karena kecewa, suami atau istri menulis kalimat seperti, “Lucu ya, orang di luar rumah bisa lebih lembut daripada yang di rumah sendiri,” atau “Hidup bersama tapi serasa sendiri.”

Niatnya mungkin hanya ingin curhat, namun tanpa disadari, kalimat seperti itu bisa menjadi sindiran yang menyakitkan dan membuka aib pasangan sendiri.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa rumah tangga dibangun bukan sekadar untuk bisa tinggal dalam satu atap, tapi untuk saling melindungi, menjaga kehormatan, dan menutup kekurangan satu sama lain. Al-Qur’an secara tegas melarang perilaku menyindir dan merendahkan orang lain. Dalam surah Al-Hujurat ayat 11, Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Dua Sumber Kebahagiaan

Asy-Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan, “Sikap merendahkan orang lain tidak muncul kecuali dari hati yang dipenuhi dengan akhlak buruk dan sifat-sifat tercela.”

Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

Jika terhadap orang lain saja kita dilarang bersikap seperti itu, maka lebih-lebih terhadap pasangan hidup, orang yang seharusnya paling kita jaga kehormatannya.

Bahkan, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras agar tidak membuka aib rumah tangga, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan urusan pribadi suami-istri.

Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ  bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Termasuk orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang telah berhubungan dengan pasangannya, lalu menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Islam selalu memberikan jalan terbaik saat rumah tangga menghadapi masalah. Langkah pertama adalah berbicara dengan tenang, saling terbuka, dan mau mendengarkan.

Jika persoalan tak bisa diselesaikan berdua, libatkan pihak ketiga yang bijak dan dipercaya, sebagaimana tuntunan Allah dalam Al-Qur’an:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَآ إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا

“Jika kamu khawatir terjadi perselisihan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya menghendaki perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada mereka.” (QS. An-Nisa: 35)

Ayat ini menegaskan bahwa jalan damai, musyawarah, dan melibatkan keluarga adalah cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan rumah tangga, bukan dengan menyindir di ruang publik, bukan dengan curhat di media sosial, dan bukan dengan menelanjangi aib pasangan sendiri.

Kesimpulan

Menyindir pasangan di media sosial bukan hanya masalah sopan santun, tapi juga pelanggaran terhadap kehormatan rumah tangga.

Baca Juga:  Khutbah Jum'at: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Al-Qur’an melarang ejekan dan celaan, Rasulullah ﷺ memperingatkan keras tentang membuka aib, dan para ulama menjelaskan bahwa sindiran semacam itu bisa menjadi sumber perusak hubungan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberkahi dan membimbing kita dan keluarga kita di jalan yang di Ridhai-Nya.

وَٱلۡعَصۡرِ  ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ  ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ  ٣

KHUTBAH KEDUA

 اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْ بَيْنَنَا مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا.

اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ الْخِصَامِ وَالشِّقَاقِ، وَاحْفَظْنَا مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ، وَارْزُقْنَا الْحِلْمَ وَالْحِكْمَةَ وَالْصَّبْرَ فِي مَوَاطِنِ الْبَلَاءِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا سَكِينَةً وَإِيمَانًا وَرِضًا بِقَضَائِكَ، وَاحْفَظْنَا وَأَهْلِينَا مِنَ الشَّيْطَانِ وَهَمَزَاتِهِ.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، أَقِيمُوْا الصَّلاَةَ